Dari Sumur jadi Hotel Achmad Faisal | Saturday, 14 February 2015

Nabi Muhammad dan para sahabat kaum Muhajirin sampai di Madinah dan disambut meriah penuh kehangatan oleh kaum Anshor. Namun tak berapa lama, masalah pun muncul. Kota Madinah dilanda kekeringan, warga pun kesulitan air. Tapi ada sebuah sumur yang terus mengeluarkan air walaupun sedang kekeringan. Tapi sayang sumur itu milik seorang Yahudi, dan dia menjual air dari sumur miliknya itu dengan harga tinggi, karena melihat persediaan air yang sangat terbatas namun permintaan tinggi. Persis praktek bisnis jaman sekarang ya? 
Rasulullah SAW pun menantang sahabat dan memberikan jaminan. "Wahai sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapatkan surgaNya Allah Ta'ala." (HR. Muslim). Tak lama kemudian salah seorang sahabat, yaitu Utsman bin ‘Affan mendatangi Yahudi tersebut dan menawar untuk membeli sumurnya. Namun si Yahudi tak mau menjual sumurnya itu. Karena kalau sumur itu dijual, ia tak punya ladang bisnis lagi. Walau sudah menawar dengan harga yang sangat tinggi, Utsman tak berhasil membeli sumur tersebut. Namun sebagai seorang pengusaha yang pantang menyerah, Utsman terus kreatif mencari celah yang terbuka. Akhirnya dia menemukan ide. Utsman pun mendatangi kembali Yahudi tersebut, dan mengatakan bahwa dia akan membeli sumur itu setengahnya saja. Si Yahudi pun heran, mana mungkin sumur dijual setengahnya? . Lantas utsman pun menjelaskan maksudnya, bahwa dia membeli sumur itu setengahnya, dengan maksud, bahwa sumur itu satu hari menjadi milik utsman dan hari berikutnya milik Yahudi, dan begitu seterusnya. Kepemilikannya berganti selang sehari. Dengan demikian si Yahudi itu tidak akan kehilangan sumur miliknya dan tetap bisa menjual air dari sumurnya tersebut. Mendengar penjelasan itu si Yahudi pun setuju menjual sumurnya setengahnya saja, tapi tetap dengan harga yang lebih tinggi. Transaksi pun terjadi antara Utsman bin Affan dan Yahudi itu.
Di hari ketika sumur itu menjadi milik Utsman, Utsman pun memanggil semua warga Madinah untuk mengambil air dari sumurnya secara gratis. Dan Utsman berpesan agar mereka mengambil air untuk persediaan dua hari, karena besok sumur itu bukan lagi miliknya. Dan setelah selang sehari warga pun berdatangan untuk kembali mengambil air gratis untuk persediaan dua hari. Dan di hari ketika sumur itu milik Yahudi, maka tidak ada seorangpun yang membeli air, karena warga sudah memiliki persediaan yang cukup untuk dua hari. Walhasil si Yahudi pun merana, bisnisnya sepi dan penghasilannya pun nihil.
Yahudi itupun mendatangi Utsman, lalu ia bersedia menjual seluruh sumur miliknya tersebut. Utsman pun membelinya. Setelah semur itu milik Utsman milik sepenuhnya, maka tanpa ragu-ragu Utsman pun mewakafkan sumur itu untuk dikelola oleh Baitulmaal, bahkan di sekitar sumur ada pohon kurma yang membuahkan hasil yang cukup besar. Semua itu diwakafkan diwakafkan kepada Baitulmaal untuk dikelola. Hasil dari panen kurmanya, setengahnya dibagikan kepada fakir miskin dan setengahnya lagi dikelola oleh Baitulmaal untuk dikembangkan bagi kepentingan fii sabiilillah. Utsman telah wafat 1400an tahun yang lalu. Tapi wakafnya terus berkembang hingga saat ini. Hasil sumur dan Kebun Kurma itupun kini sudah jadi sebuah hotel bintang lima di tempat strategis dekat Masji Nabawi. Bahkan di sebuah bank di Arab Saudi, masih ada rekening a.n. Utsman bin Affan, yang merupakan rekening hasil wakaf Utsman hingga saat ini yang terus memberikan manfaat untuk umat.
Keren sekali ya? Tapi apakah kita termasuk orang yang cukup hanya dengan berdecak kagum atas kisah nyata tersebut? Atau kita langsung tergerak dan mengambil langkah kongkrit bersedekah, berkawaf, untuk kepentingan umat? Pilihan ada di tangan Anda.

Comments

belum ada komentar

Leave a Comment

  • Nama
  • Mail   
  • Komentar