FATWA DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM (2): HUKUM UANG MUKA APABILA BATAL JUAL BELI admin | Tuesday, 4 April 2017

BANDUNG-pzu.or.id,Sebagaimana tercatat dalam lampiran daftar permasalahan yang akan dibahas, masalah kedua yang seharusnya disidangkan adalah Menjamak Shalat Ashar dengan Shalat Jum’at. Namun, karena pemakalah Hukum Uang Muka Apabila Batal Jual Beli, KH. Prof. Dr. Maman Abdurrahman, MA yang seharusnya memaparkan makalahnya pada Kamis (29/12/16) tidak bisa menghadiri persidangan pada hari tersebut, maka pembahasannya diawalkan pada hari pertama, Rabu (28/12/16).

“Seyogyanya makalah ini disampaikan pada hari esok. Akan tetapi ada permohonan dari beliau karena ada satu dua hal yang harus diselesaikan,” jelas KH. Drs. Uus Muhammad Ruhiyat, selaku moderator.

Setelah beberapa hal disampaikan moderator, hak bicara diserahkan kepada pemakalah, KH. Prof. Dr. Maman Abdurrahman, MA. Beliau mengungkapkan, tidak akan membacakan makalah secara keseluruhan, tetapi hanya menyampaikan beberapa poin penting.

Sebelum masuk ke dalam permasalahan pokok, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP. Persis) masa jihad 2010-2015 itu sedikit mengungkap mengenai prinsip-prinsip tijarahbai, dan dain dalam Islam yang antara lain: menghindari riba, utang piutang boleh dengan persyaratan tertentu, mesti terdapat rihaanun maqbudhah, adanya ‘an taradhin, halal dzat dan sifat, tidak adanya unsur ghasy, menunaikan janji dan tolong menolong, serta utang dibayar ada catatannya bila ada tempo bila belum terbayar.

Setelahnya, beliau mengutarakan beberapa pendapat dari para ulama mengenai pengertian ‘urbun (uang muka). Adapun mengenai hukumnya, KH. Prof. Dr. Maman Abdurrahman, MA menuturkan dua pendapat yang berbeda; pendapat yang melarang dan yang membolehkan.

Sekitar pukul 11.55 WIB, sidang dijeda terlebih dahulu mengingat adzan dzuhur sudah dikumandangkan.

“Saya kira, mungkin, sistem ini akan saya skor satu jam sampai jam satu siang,” jelas KH. Drs. Uus Muhammad Ruhiyat.

Pada pukul 13.10 WIB, sidang dilanjutkan. Beberapa anggota mengungkapkan pertanyaan, pendapat, dan tanggapannya masing-masing yang di antaranya KH. A. Zakaria, KH. Zae Nandang, KH. Taufiq Rahman Azhar, S.Ag, H. Haris Muslim, Lc, MA, Ustadz Amin Saefullah Muchtar, dan KH. Dr. Nashruddin Syarief, M.Ag.

Dari berbagai tanggapan dan masukan yang disampaikan, maka permasalahan Hukum Uang Muka Apabila Batal Jual Beli menghasilkan dua poin istinbath, yaitu:

  1. Uang muka dalam jual beli hukumnya mubah.
  2. Jika terjadi pembatalan transaksi oleh pembeli, lalu uang muka menjadi hak milik penjual atas kesepakatan bersama dengan tidak saling merugikan, hukumnya mubah.

Adapun lampiran keputusan Dewan Hisbah tentang Hukum Uang Muka Apabila Batal Jual Beli sebagai berikut:

KEPUTUSAN DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

No. 010 Tahun 1438 H. / 2016 M.

Tentang:

HUKUM UANG MUKA APABILA BATAL JUAL BELI

بسم الله الرحمن الرحيم

Dewan Hisbah Persatuan Islam Pada Sidang Lengkap, di gedung H2QM Pesantren Persis Ciganitri, Kabupaten Bandung tanggal 28-29 Rabiul Awwal 1438 H/ 28-29 Desember 2016 M setelah:

MENIMBANG:

  1. Fenomena di masyarakat adanya transaksi jual beli dengan cara pembeli memberikan uang muka sebagai tanda jadi. Kemudian terjadi pembatalan transaksi oleh pihak pembeli, maka uang muka tersebut menjadi hangus.
  2. Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama terkait dengan status hak milik uang muka, ketika terjadi pembatalan oleh pihak pembeli atau penjual.
  3. Dewan Hisbah merasa perlu untuk menjawab persoalan tersebut.
  4.  

MENGINGAT:

1. al-Quran

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا. –سورة النساء : 29.-

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisa : 29)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ. –سورة البقرة 278-279.-

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. * Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan). (QS. Al-Baqarah : 278-279)

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ. –سورة المائدة : 2. –

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah :2)

2. As-Sunnah

عَنِ ابْنِ عُمَرَ, عَنْ رَسُولِ اَللهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – إِذَا تَبَايَعَ اَلرَّجُلاَنِ, فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا وَكَانَا جَمِيعاً, أَوْ يُخَيِّرُ أَحَدُهُمَا اَلآخَرَ, فَإِنْ خَيَّرَ أَحَدُهُمَا اَلآخَرَ فَتَبَايَعَا عَلَى ذَلِكَ فَقَدَ وَجَبَ اَلْبَيْعُ, وَإِنْ تَفَرَّقَا بَعْدَ أَنْ تَبَايَعَا, وَلَمْ يَتْرُكْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا اَلْبَيْعَ فَقَدْ وَجَبَ اَلْبَيْعُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

Dari Ibnu Umar dari Rasulullah Saw. bahwa beliau bersabda: “Jika dua orang melakukan transaksi jual beli, maka salah satu dari keduanya berhak untuk khiyar (memilih), selagi keduanya belum berpisah dan keduanya masih berkumpul, atau salah satunya mengajukan khiyar (pilihan) kepada yang lain. Jika salah satunya telah menetapkan khiyar (pilihannya) atas yang lain, maka transaksi harus dilaksanakan sesuai dengan khiyarnya. Dan jika keduanya telah berpisah setelah melakukan transaksi jual beli, sedangkan sedangkan salah satu dari keduanya tidak membatalkan jual beli, maka transaksi telah sah.” (Muttafaq Alaih, lafal Muslim, Shahih Muslim, II/10)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ. أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ « مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ ». قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى ». رواه مسلم

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya: “Apa ini wahai pemilik makanan?” sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya. Barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah saw. melarang jual beli dengan cara hashah (yaitu: jual beli dengan melempar kerikil) dan cara lain yang mengandung unsur penipuan. (HR. Muslim, Shahih Muslim, II/4)

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ فَرُّوخَ : أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ اشْتَرَى دَار السَّجْنِ مِنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ بِأَرْبَعَةِ آلاَفِ دِرْهَمٍ ، فَإِنْ رَضِيَ عُمَرُ فَالْبَيْعُ لَهُ ، وَإِنْ عُمَرَ لَمْ يَرْضَ فَأَرْبَعُمِئَةٍ لِصَفْوَانَ. –رواه ابن ابي شيبة-

Dari Abdurrahman bin Farukh, bahwa Nafi bin Abdul Haris membeli rumah penjara dari Shafwan bin Umayah dengan harga empat ribu dirham, jika Umar rido maka penjualan itu baginya (jadi), dan sesungguhnya Umar tidak rido maka empat ratus (dirham) itu bagi Shafwan.” (HR. Ibnu Abu Syaibah, Mushanaf Ibnu Abi Syaibah, V/392)

3. Kaidah Fiqhiyah

اَلاَصْلُ فِي الْمُعَامَلاَتِ اَلاِبَاحَةُ أَوْ اَلْحِلُّ حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى تَحْرِيْمِهِ

Pokok dalam urusan muamalah itu boleh atau halal sehingga ada dalil yang menunjukkan atas pengharamannya

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Tidak ada madharat dan tidak memadharatkan.

MEMPERHATIKAN:

  1. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP.Persis KH. Aceng Zakaria yang menyarankan segera diputuskan masalah hukum tentang ‘Hukum Uang Muka apabila Batal Jual Beli’, dan untuk segera disosialisasikan.
  2. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Muhammad Romli.
  3. Pemaparan dan pembahasan makalah tentang ‘Hukum Uang Muka apabila Batal Jual Beli’ yang disampaikan oleh Prof. Dr.K.H. Maman Abdurrahman, M.A.
  4. Pandangan para peserta sidang tentang dalil, Wajh al-Dilalah, metode istinbath, serta kesimpulan makalah ‘Hukum Uang Muka apabila Batal Jual Beli.

Atas dasar semua konsideran di atas, maka dengan bertawakal kepada Allah, Dewan Hisbah Persatuan Islam

MENGISTINBATH:

  1. Uang muka dalam jual beli hukumnya mubah
  2. Jika terjadi pembatalan transaksi oleh pembeli, lalu uang muka menjadi hak milik penjual atas kesepakatan bersama dengan tidak saling merugikan, hukumnya mubah.
  3.  

Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 28 Rabiul Awwal 1438 H/28 Desember 2016 M.

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

Ketua,             Sekretaris,

 

MUHAMMAD ROMLI                                                                                              KH.ZAE NANDANG

NIAT : 01.02.08301.094                                                                                         NIAT :01.02.13511.018

 

sumber : Dewan Hisbah Persatuan Islam

              Sigabah.com

 

Comments

belum ada komentar

Leave a Comment

  • Nama
  • Mail   
  • Komentar