BERAPA HARI SHAUM DIBULAN DZULHIJJAH ? YU KETAHUI DISINI !! admin | Wednesday, 23 August 2017

Sebagaimana telah kita maklumi bahwa pada bulan Dzulhijjah bagi kaum muslimin yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji disyariatkan melaksanakan shaum pada tanggal 9 Dzulhijjah yang dikenal dengan sebutan shaum Arafah, sebagaimana diterangkan dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبِلَةً، وَصَوْمُ عَاشُوْرَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً . – رواه الجماعة إلا البخاري والترمذي –

Dari Abu Qatadah, ia berkata,”Rasulullah saw. telah bersabda,’Shaum Hari Arafah itu akan mengkifarati (menghapus dosa) dua tahun, yaitu setahun yang telah lalu dan setahun kemudian. Sedangkan shaum Asyura akan mengkifarati setahun yang lalu.” HR. Al-Jama’ah kecuali Al-Bukhari dan At-Tirmidzi. 

Meski demikian, muncul pertanyaan dari sebagian jamaah, apakah shaum di bulan Dzulhijjah itu hanya satu hari (9 Dzulhijjah) atau 9 hari, sejak tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah? Pertanyaan itu muncul karena terdapat fatwa yang mengatakan demikian dengan merujuk sejumlah hadis, antara lain sebagai berikut:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ ، وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah padanya daripada 10 hari Dzulhijjah. Saum setiap hari padanya sebanding dengan shaum setahun. Dan qiyamul lail setiap malam padanya sebanding dengan qiyam lailatul qadr.” HR. At-Tirmidzi

Jawaban Kami

 Kami temukan sejumlah hadis yang menunjukkan bahwa shaum di bulan Dzulhijjah itu bukan hanya shaum Arafah, namun setelah dianalisa ternyata hadis-hadis itu dhaif bahkan palsu, dengan argumentasi sebagai berikut:

Pertama, shaum selama 10 hari pertama Dzulhijjah

Hadis tentang shaum 10 hari pertama bulan Dzulhijjah diriwayatkan dengan redaksi beragam, yaitu:

Riwayat (1)

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ ، وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah padanya daripada 10 hari Dzulhijjah. Saum setiap hari padanya sebanding dengan shaum setahun. Dan qiyamul lail setiap malam padanya sebanding dengan qiyam lailatul qadr.” HR. At-Tirmidzi, Al-Baghawi, dan al-Baihaqi. 

Hadis di atas diriwayatkan pula oleh Ibnu al-Jauzi, dengan redaksi

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيْهَا مِنْ عَشْرَةَ ذِي الْحِجَّةِ يُعَدُّ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah padanya daripada 10 hari Dzulhijjah. Saum setiap hari padanya dinilai sebanding dengan shaum setahun. Dan qiyamul lail padanya dinilai sebanding dengan qiyam lailatul qadr.”

Derajat hadis

Imam at-Tirmidzi berkata:

هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ ، لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ مَسْعُودِ بْنِ وَاصِلٍ ، عَنِ النَّهَّاسِ.وَسَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ هَذَا الحَدِيثِ فَلَمْ يَعْرِفْهُ مِنْ غَيْرِ هَذَا الوَجْهِ مِثْلَ هَذَا. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ قَتَادَةَ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْسَلاً شَيْءٌ مِنْ هَذَا. وَقَدْ تَكَلَّمَ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ فِي نَهَّاسِ بْنِ قَهْمٍ مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ.

“Ini hadis gharib (tunggal), kami tidak mengetahuinya selain dari hadis Mas’ud bin Washil, dari an-Nahhas. Dan saya bertanya kepada Muhamad (al-Bukhari) tentang hadis ini, maka beliau tidak mengetahuinya selain dari jalur ini. Sedikit bagian dari hadis ini telah diriwayatkan pula dari Qatadah, dari Sa’id al-Musayyab, dari Nabi saw. dengan sanad mursal (terputus), dan Yahya bin Sa’id al-Qathan telah memperbincangkan Nahas bin Qahm dari aspek hapalannya.” 

Kata Imam al-Baghawi:

وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ , قَالَ أَبُو عِيسَى : سَأَلْتُ مُحَمَّدًا ، عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ ، فَلَمْ يَعْرِفْهُ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ مِثْلَ هَذَا.

Dan sanadnya dha’if. Abu Isa at-Tirmidzi berkata, ‘Saya bertanya kepada Muhamad (al-Bukhari) tentang hadis ini, maka beliau tidak mengetahuinya selain dari jalur ini.” 

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ طَرِيقِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يَعْدِلُ صِيَامَ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ ، وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ لَكِنْ إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ ، وَكَذَا الْإِسْنَادُ إِلَى عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ

“Dan riwayat at-Tirmidzi melalui jalur Sa’id bin al-Musayyib, dari Abu Huraerah: ‘Saum setiap hari padanya sebanding dengan shaum setahun. Dan qiyamul lail setiap malam padanya sebanding dengan qiyam lailatul qadr,’ namun sanadnya dha’if, begitu pula penyandaran kepada ‘Adi bin Tsabit. Wallahu A’lam.”

Untuk memperjelas penilaian para ulama di atas, dapat kami sampaikan sampaikan latar belakang dan penyebab hadis itu dinilai dha’if.

Pertama, rawi bernama Mas’ud bin Washil. Kata ad-Daraquthni, “Abu Dawud at-Thayalisi menyatakan bahwa ia daif.”  Kata Ibnu Hajar, “Layyin al-Hadits” 

Kedua, rawi bernama Nahhas bin Qahm. Kata Ibnu Hiban, “Dia meriwayatkan hadis munkar dari orang-orang populer, menyalahi periwayatan para rawi tsiqat, tidak boleh dipakai hujjah.”  Kata Ibnu Hajar, “dha’if.” 

Riwayat (2)

صِيَامُ أَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْعَشْرِ يَعْدِلُ مِائَةَ سَنَةٍ وَالْيَوْمِ الثَّانِي يَعْدِلُ مِائَتَي سَنَةٍ فَإِنْ كَانَ يَوْمَ التَّرْوِيَةِ يَعْدِلُ أَلْفَ عَامٍ وَصِيَامُ يَوْمَ عَرَفَةَ يَعْدِلُ أَلْفَي عَامٍ

“Shaum hari pertama dari 10 hari (Dzulhijjah) sebanding dengan 100 tahun. Hari kedua sebanding dengan 200 tahun, jika hari Tarwiyyah (8 Dzulhijjah) sebanding dengan 1000 tahun, dan shaum hari Arafah (9 Dzulhijjah) sebanding dengan 2000 tahun.” HR. Ad-Dailami. 

 Derajat hadis

Hadis ini daif, bahkan maudhu’ (palsu) karena pada sanadnya terdapat rawi Muhamad bin Umar al-Muharram. Kata Abu Hatim, “Dia pemalsu hadis.”  Kata Ibn al-Jauzi, “Dia manusia paling dusta.” 

Kedua, Tanggal 1 dan 9 Dzulhijjah

 Hadis tentang shaum 1 dan 9 bulan Dzulhijjah diriwayatkan dengan redaksi berikut:

فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ ذِي الْحِجِّةِ وُلِدَ إِبْرَاهِيمُ : فَمَنْ صَامَ ذلِكَ اليَوْمَ كَانَ كَفَّارَةُ سِتِّينَ سَنَةً.

“Pada malam awal bulan Dzulhijah itu dilahirkan Nabi Ibrahim, maka siapa yang shaum pada siang harinya, hal itu merupakan kifarat dosa selama enam puluh tahun.” 

Dalam riwayat lain dengan redaksi:

فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ ذِي الْحِجِّةِ وُلِدَ إِبْرَاهِيمُ : فَمَنْ صَامَ ذلِكَ اليَوْمَ كَانَ كَفَّارَةُ ثَمَانِيْنَ سَنَةً – وَفِي رِوَايَةٍ – سَبْعِيْنَ سَنَةً وَفِي تِسْعٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ أَنْزَلَ اللهُ تَوْبَةَ دَاوُدَ فَمَنْ صَامَ ذلِكَ اليَوْمَ كَانَ كَفَّارَةُ سِتِّينَ سَنَةً – وَفِي رِوَايَةٍ – غَفَرَ اللهُ لَهُ كَمَا غَفَرَ ذَنْبَ دَاوُدَ

“Pada malam awal bulan Dzulhijah itu dilahirkan Nabi Ibrahim, maka siapa yang shaum pada hari itu, hal itu merupakan kifarat dosa selama delapan puluh tahun. Dan pada suatu riwayat tujuh puluh tahun. Dan pada 9 Dzulhijjah Allah menurunkan taubat Nabi Daud, maka siapa yang shaum pada hari itu, hal itu merupakan kifarat dosa selama enam puluh tahun” Dan pada suatu riwayat: “Allah mengampuninya sebagaimana Dia mengampuni dosa Nabi Dawud.” HR. Ad-Dailami. 

Derajat hadis

Hadis-hadis di atas dengan berbagai variasi redaksinya adalah maudhu (palsu) karena diriwayatkan oleh seorang pendusta bernama Muhamad bin Sahl

Ketiga, Tanggal 18 Dzulhijjah

مَنْ صَامَ يَوْمَ ثَمَانِيَّةَ عَشَرَ مِنْ ذِيْ الْحِجَّةِ كَتَبَ اللهُ لَهُ صِيَامَ سِتِّيْنَ شَهْرًا

“Siapa yang shaum hari ke-18 Dzulhijjah, Allah pasti mencatat baginya (pahala) shaum 60 bulan.” 

 Derajat hadis

Hadis ini daif, bahkan maudhu’ (palsu). Kata Imam ad-Dzahabi, “ini hadis sangat munkar, bahkan palsu.” 

Keempat, Hari Terakhir Bulan Dzulhijjah dan Hari Pertama Muharram

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَأَوَّلَ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبِلَةَ بِصَوْمٍ فَقَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَّارَةَ خَمْسِينَ سَنَةً.

“Siapa yang shaum pada hari terakhir bulan Dzulhijah dan hari pertama bulan Muharam, maka ia telah menutup tahun lalu dengan shaum dan membuka tahun yang datang dengan shaum. Sungguh Allah telah menjadikan kifarat dosa selama lima puluh tahun baginya.” 

Menurut Ibnu Katsir, hadis ini diriwayatkan pula dengan sedikit perbedaan redaksi pada akhir hadis:

فَقَدْ جَعَلَهُ اللهُ كَفَّارَةَ خَمْسِينَ سَنَةً

“Sungguh Allah telah menjadikannya sebagai kifarat dosa selama lima puluh tahun.” 

Derajat hadis

Hadis ini daif, bahkan maudhu’ (palsu). Pada sanadnya terdapat dua rawi pendusta, yaitu Ahmad bin Abdullah al-Harawi dan Wahb bin Wahb. Kata Imam as-Suyuthi, “keduanya pendusta.”  Kata Imam Ibn al-Jauzi, “Keduanya pendusta dan pemalsu hadis.” 

Dari berbagai keterangan para ahli hadis di atas dapat diambil kesimpulan bahwa shaum yang disyariatkan pada bulan Dzulhijjah hanya satu hari 9 Dzulhijjah, yang disebut shaum Arafah.

Lihat, Ahmad, Musnad Ahmad, XXXVII:222, No. hadis 22.535, Muslim, Shahih Muslim, I:520, An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, II:150, No. hadis 2796, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:340, 343, Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, VI:300, No. hadis 5642. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ath-Thabrani dari Sahabat Zaid bin Arqam, Sahl bin Saad, Qatadah bin Nu’man, Ibnu Umar, dan Abu Sa’id Al-Khudriy. Dalam versi Abu Sa’id Al-Khudriy dengan redaksi:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍالخُدِرِيِّ قَالَ : قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ السَّنَةِ المَاضِيَةِ وَالسَّنَةِ المُسْتَقْبِلَةِ

Dari Abu Said, dari Nabi saw. Shaum Arafah itu merupakan kifarat tahun yang telah lalu dan tahun yang akan datang. HR. Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, III:45, No. hadis 2086.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

 

 Lihat, HR. At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, III:132, No. 758, Al-Baghawi, Syarh as-Sunnah, IV:436, Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, III:355, No. 3757

 Lihat, al-‘Ilal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah, II:563, Hadis No. 925

 Lihat, Sunan at-Tirmidzi, III:132.

 Lihat, Syarh as-Sunnah, IV:436.

 Lihat, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, II:461

 Lihat, ‘Ilal ad-Daraquthni, IX:200.

 Lihat, Tahdzib at-Tahdzib, X:109; Taqrib at-Tahdzib, hlm. 528

 Lihat, Tahdzib al-Kamal, XXX:28.

 Lihat, Taqrib at-Tahdzib, hlm. 566

 Lihat, al-Firdaus bi Ma’tsur al-Khitab, II:396, hadis No. 3755

 Lihat, ad-Dhu’afa wa al-Matrukin, III:96.

 Lihat, al-Maudhu’at, II:198.

 Lihat, Tadzkirrah al-Maudhu’at, hal. 119.

 Lihat, al-Firdaus bi Ma’tsur al-Khitab, III:142, hadis No. 4381, II:21 No. 2136, IV:386, No. 7122. Lihat pula, Tanzih as-Syari’ah al-Marfu’ah, II:165 No. 50; Maushu’ah al-Ahadits wal Atsar ad-Dha’ifah wal Maudhu’ah, VI:235 No. 14.953.

 Lihat, Tadzkirrah al-Maudhu’at, hlm. 119

 Lihat, Kasyf al-Khifa wa Muzil al-Ilbas, II:258hadis No. 2520; al-‘Ilal al-Mutanahiyah, I:226, No. 356; al-Abathil wal Manakir, II:302, No. 714.

 Lihat, Kasyf al-Khifa wa Muzil al-Ilbas, II:258.

 Lihat, al-La’ali al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, II:92; al-Maudhu’at, II:199; Tadzkirrah al-Maudhu’at, hlm. 118; Tanzih as-Syari’ah, II:176.

 Lihat, al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, hlm. 96, No. 31

 Lihat, al-La’ali al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, II:92.

 Lihat, al-Maudhu’at, II:199.

sumber : www.sigabah.com

 

Comments

belum ada komentar

Leave a Comment

  • Nama
  • Mail   
  • Komentar