ARTI MERDEKA DARI SOSOK BAPAK UHING YANG PENUH MAKNA admin | Monday, 21 August 2017

TASIKMALAYA-pzu.or.id, Bulan Agustus merupakan bulan bersejarah bagi bangsa Indonesia. Peristiwa deklarasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17Agustus 1945 menjadi momen yang paling berharga bagi Bangsa Indonesia. Maka pantas bulan Agustus disebut juga bulan kemerdekaan.

 

Di tengah-tengah meriahnya peringatan kemerdekaan, ada pemandangan unik sekaligus pelajaran berharga dari seorang lansia yang mengaku bernama Bapak Uhing. Beliau berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling, sudah sejak lama beliau menekuni profesinya tersebut.

Pria berumur 80 tahun tersebut berasal dari Cigalontang-Singaparna. Terlihat raut kelelahan yang menunjukan raganya sudah tidak sekuat tekad dan semangatnya, dan disitulah letak pelajaran berharga dimomen kemerdekaan ini.

Meskipun beliau menyadari bahwa kini raganya sudah tidak seperti dulu, beliau tetap semangat untuk berikhtiyar mencari nafkah halalan-thayyiban bagi keluarga tercintanya. Sangat ironi jika kita bandingkan dengan beberapa kisah orang-orang yang tertentu yang menghalalkan segala cara demi kebutuhan syahwat-nya, padahal kondisinya lebih beruntung dari Pak Uhing.

Sudah 2 hari sejak hari Jum’at (18/08/2017) Pak Uhing tidak pulang ke kediamannya di Cigalontang, Singaparna dengan harapan bisa pulang dengan membawa nafkah yang cukup untuk keluarganya. Namun yang terjadi malah sebaliknya, beliau kehabisan bekal untuk sekedar kebutuhan pangannya, apalagi untuk ongkos pulang, dan beliau memilih untuk tetap berusaha menjajakan jasa sol sepatunya ditengah kondisinya yang mulai lemah, Subhaanallaah.

Dengan izin Allah SWT., hari Ahad (20/08/2017) beliau menjajakan jasanya ke kediaman salah seorang tim amilin  Pusat Zakat Umat Cihideung Kota Tasikmalaya. Selagi Pak Uhing melakukan keahliannya, beliau berbincang mengenai kisahnya yang bagi kami sarat dengan hikmah tersebut. Sebelum adzan dzuhur Pak Uhing sudah menyelesaikan tugasnya dan beliau pamit untuk melanjutkan berkeliling menjajakan jasanya.

Bagi beliau, kemerdekaan bukan bersorak dipinggir lapangan menyaksikan beraneka perlombaan khas agustusan, bukan pula menyaksikan lantunan merdu biduan dangdut, apalagi ikut berjoget. Usianya yang lebih tua dari umur kemerdekaan Bangsa ini tentu sudah cukup untuk menjelaskan pengalaman dan pemahaman beliau mengenai kemerdekaan. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, lagu kepahlawanan tidak lagi hanya sebagai hiasan bibir semata, bahkan sudah meresap dan mendarah daging. Hal itu ditunjukan dengan kabulatan tekad dan semangatnya untuk tetap mandiri meski diusia yang sudah udzur.

Merdeka adalah kemandirian. Merdeka adalah “Laa Ilaaha Illallaah”. Itu yang kami pahami dari Pak Uhing. Tak kata yang pantas kami ucapkan kepada beliau salain ucapan terimakasih dan do’a, semoga beliau dan keluarga diberkahi dan dirahmati Allah SWT. Dan semoga bangsa ini dihuni oleh orang-orang yang memiliki semangat dan tekad kemerdekaan seperti beliau.

Kami generasi muda banyak berhutang kepada para pejuang seperti beliau. Melalui kisahnya, semoga kami dapat lebih memahami hakikat kemerdekaan. #BahagiakanUmat

 

Created : Fathu Robbani / PZU Unit Cihideung

 

 

DONASI ARRUHAMA

Comments

belum ada komentar

Leave a Comment

  • Nama
  • Mail   
  • Komentar