KH Rahmat Najieb

 

Sabda Rasulullah Saw,

تَسَحَّرُوْا فَِإنَّ فيِ السَّحُوْرِ برَكَةً

Bersahurlah, karena dalam sahur itu ada barokah (HR Ahmad, Albukhori, Muslim, Attirmidzi, Annasā-i, Ibnu Majah, dan Addārimi)

Ada beberapa hadits yang semakna dengan hadits di atas, di antaranya;

عَلَيْكُمْ بِهذَا السَّحُوْرِ فَإَِّنهُ هُوَ الْغَذَاءُ الْمُبَارَكُ -رواه النسائي

Hendaklah kalian makan sahur, sebab makan sahur itu adalah makanan yang diberkahi (HR Annasāi)

اَلسَّحُوْرُ بَرَكَةٌ، فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أنْ يَجرَْعَ أحَدُكُمْ جَرْعَةَ مَاءٍ، فَِإنَّ اللهَ وَ مَلائَِكَتَهُ يصَلُوْنَ عَلَى اْلمُتَسَحِّرِيْنَ – رواه أحمد

Bersahur itu berkah, maka jangan kamu tinggalkan, walau seseorang di antaramu itu akan minum seteguk air. Karena Allah akan memberi rahmat dan malaikat-Nya akan mengucapkan salawat bagi orang-orang yang bersahur. (HR. Ahmad).

Pada asalnya kalimat sahur ini bukan menunjukan kata kerja, tetapi menunjukkan waktu. Yaitu waktu malam menjelang fajar. Dalam hadits di atas “tasahharū” maksudnya perintah untuk makan dan minum pada waktu sahur karena akan melaksanakan shiyam pada siang harinya.

Barakah artinya keuntungan, kelebihan, manfaat, kebaikan, pahala yang datang dari Allah. Dalam ta’rif dikatakan “Tetapnya kebaikan atau pahala dari Allah”

Berkah-berkah Sahur :

  1. Sahur adalah waktu yang baik untuk bangun. Setiap mu’min pasti berdo’a ketika ia bangun tidur, sekurang-kurangnya mengucapkan hamdalah. Kemudian dianjurkan untuk berdzikir, berdo’a dan istighfar. Allah Tabaroka wa Ta’ala memuji orang-orang yang beriman,

اَلصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْمُنْفِقِيْنَ وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالْاَسْحَارِ

(Yaitu) orang-orang yang sabar yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. (QS Ali Imran [3] : 17)

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan di akhir malam (sahur) mereka memohon ampun (kepada Allah). (QS Addzariyat [51] : 17-18)

2. Yang paling baik untuk sholat malam atau sholat witir adalah pada waktu sahur atau akhir malam, karena akhir malam itu disaksikan malaikat pencatat amal. Kata Jabir, Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ خَافَ أنْ لاَيَقُوْمَ مِنْ آخِر اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ أوَّلَهُ، وَمَنْطَمِعَ أنْ يَقُوْمَ آخِرُهُ فَلْيُوْتِرْ آخِر اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهَوْدَةٌ، وَذِلكَ أفْضَلُ -رواه مسلم

Siapa yang khawatir bahwa ia tidak akan bangun pada akhir malam, maka ia boleh witir pada awal malam; dan siapa yang yakin ia bisa bangun pada akhir malam, maka hendaklah ia witir di akhirnya, karena shalat akhir malam itu disaksikan dan yang demikian lebih utama. (HR. Muslim)

3. Membaca Alquran pada saat itu pahalanya lebih baik, dijadikan ukuran antara sehabis makan sahur dengan shalat shubuh. Kata Zaid bin Tsabit,

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَِّبِيّ ص ثُمَّ قَامَ إِلىَ الصَّلاةَِ قُلْتُ : كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَ السَّحُوْرِ قَالَ: قَدْرَ خَمْسِيْنَ آََيةً -رواهالبخاري

Kami makan sahur bersama Rasulullah Saw. Kemudian berdiri untuk sholat shubuh. Kataku, “Berapa waktu antara adzan dan sahur?” Dia jawab: “Kira-kira 50 ayat” (HR. Albukhari).

4. Berniat shiyam. Shiyam wajib itu harus diniatkan sebelum fajar. Berbeda dengan shiyam tathowwu’. Dengan adanya makan sahur jelas seorang mu’min sudah berniat shiyam untuk siang harinya. Bagi orang yang lalai, tidak meniatkan shiyam pada waktu malamnya dan ia bangun kesiangan, maka ia tidak melaksanakan shiyam. “Telah bersabda Rasulullah Saw,

مَنْ لمْ يْجمِعِ الصِّياَمَ قَبْلَ اْلفَجْرِ فَلا صِيَامَ لهَُ -رواه احمد وأصحاب السنن وصححه ابن خزيمت وابن حبان

Siapa yang tidak membulatkan niatnya buat shiyam sebelum fajar, maka tidak sah shiyamnya. (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ash-habus Sunan, dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Dan niat itu sah pada salah satu saat di malam hari, dan tidak disyaratkan mengucapkannya, karena itu merupakan pekerjaan hati, tak ada sangkut pautnya dengan lisan. Hakikat niat ialah pekerjaan yang disengaja, demi mentaati perintah Allah Ta’ala dalam mengharapkan keridlaan-Nya. Maka siapa yang makan di waktu sahur dengan maksud akan shiyam, dan dengan menahan diri ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, berarti ia telah berniat.

5. Makan sahur adalah sunnah, sebab makan sahur diperintah Rasulullah Saw. Beliau pernah tidak makan sahur, tetapi melarang umatnya untuk melakukan hal yang sama. Sabdanya,

وَأيُّكُمْ مِثْلِي إِِنّي أبِيْتُ يُطْعِمُِني رَِبّي وَيَسْقِيِْني -متفق عليه

Siapakah di antaramu seperti aku? sesungguhnya aku bermalam diberi makan dan minum oleh Rabbku (Muttafaq alayh)

6. Makan bersama keluarga. Dalam suasana seperti itu masing-masing anggota keluarga bisa berkomunikasi dan saling memperhatikan kebutuhan, saling mengerti kesibukan. hal itu akan melahirkan tarahum (saling mengasihi) dan ta’awun (saling menolong). Bagi orang tua yang sibuk akan mempunyai kesempatan untuk mendidik dan melatih anak-anaknya, akan mengetahui kebiasaan makan mereka, yang tidak mungkin dilakukan di pagi hari yang sangat singkat.

7. Tidak akan tertinggal sholat shubuh berjamaah di masjid. Sehingga dengan leluasa dapat melaksanakan shalat rok’ataylfajri (rawatib shubuh). Sabda Rasulullah Saw “rak’atalfajri khayrum minaddun-ya wamaa fiyhaa” (rawatib shubuh lebih baik daripada dunia dan isinya) – HR Muslim. Sebaiknya setelah makan sahur itu tidak tidur lagi. Untuk itu makan sahur lebih baik dilakukan beberapa saat menjelang fajar.

كَانَ أصْحَابُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم أعْجَلَ النَّاسِ إِفْطَاراً وَ أبْطَاهُمْ سَحُوْرًا -رواه البيهقى بسند صحيح

Para sahabat Rasulullah Saw itu adalah orang-orang yang paling segera berbukanya, dan paling terlambat sahurnya.” (Diriwayat oleh Imam Albaihaqi dengan sanad yang sahih).

8. Makan itu menguatkan badan, sehingga siang harinya kita bisa bekerja seperti biasa dan tidak akan memadlaratkan shiyamnya. Orang yang tidak makan sahur ia pasti akan merasakan lebih lapar. Lapar sering menimbulkan pengaruh yang jelek terhadap akhlak

9. Tidak akan kesiangan bekerja. Atau kita bisa bekerja lebih pagi. Dengan catatan tidak tidur lagi.

10. Memberi kesempatan bagi orang yang mempunyai kelebihan makanan untuk memberi makan orang miskin, atau mengundang mereka makan bersama.

11. Tidak terlalu banyak yang disantap. Biasanya makan sahur itu seperlunya. Dan memang demikiannlah adab makan dalam Islam.

12. Mukholafatu ahlil kitab (menyalahi ahli kitab), karena mereka tidak suka makan sahur.

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB