Pada dasarnya, Rasulullah saw. memberikan kebebasan bentuk zakat, termasuk Zakat Fitri. Hal ini bisa kita simpulkan dari kalimat:

من طعام أو صاعا من تمر أو صاعا من شعير أو صاعا من

زبيب أو صاعا من أقط “Satu sha’ makanan atau satu sha’ tamar (kurma), atau satu sha’ sya’ir (gandum), atau satu sha’ zabib (kismis)…”

Sebagian orang berpendapat bahwa Zakat Fitri itu harus dengan makanan pokok berdasarkan hadits di atas. Padahal, kalau kita lebih memperhatikan lebih mendalam hadits tersebut, ada beberapa hal yang dapat kita pertanyakan; kalimat min thaam (dari makanan) apakah dapat disimpulkan makanan pokok? Apakah kurma dan kismis termasuk makanan pokok? Penyebutan jenis-jenis makanan pada hadits di atas, tidak mesti dipahami secara tekstual sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi di masing-masing negara.

Ada sebuah hadits tentang Mu’adz bin Jabal, bahwa beliau di waktu menjadi gubernur Yaman, selalu meminta agar sya’ir (padi Belanda), dan jagung, diganti dengan pakaian atau baju. Beliau berkata:

ائتوني بكل خميس ولبيس أخذه منكم مكان الصدقة فإنه أرفق بكم وأنفع للمهاجرين

“Berilah kepadaku khamis dan labis (dua macam pakaian) sebagai ganti sya’ir dan jagung. Khamis dan Labis lebih berguna bagi Muhajirin dan Anshar di Madinah.” (HR al-Bukhari)

Berdasarkan keterangan di atas, maka membayar Zakat Fitri atau zakat yang lainnya dengan uang seharga barang/makanan yang wajib zakat, adalah sah, dan tidak menyalahi syari’at.

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB