KH Rahmat Najieb

 

Laylatul Qadr adalah malam yang mulia, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Padanya para malak turun ke bumi disertai Arruhul Amin, karena melaksanakan perintah Rabb mereka untuk mengatur segala masalah, demikianlah malam itu penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar. Turunnya malaikat pada malam itu di antaranya untuk menyampaikan do’a orang-orang yang beriman.

Sejak diumumkan di dalam Alquran, keberadaan dan kemuliaan malam itu dicari dan dinanti setiap orang yang beriman. Sampai ada dua orang shahabat yang beradu argumen mempertahankan pendapat masing-masing tentang kapan malam itu terjadi. Setelah diterangkan bahwa laylatul qadr itu ada pada malam sepuluh terakhir di bulan Ramadlan, barulah mereka diam dan tidak bertanya lagi tentang waktunya.

Adapun Aisyah, Ummul Mu’minin, istri Rasulullah Saw tidak mempermasalahkan tentang waktunya yang sudah jelas pada bulan Ramadlan, ia bertanya kepada Nabi Saw tentang do’a yang harus diucapkan pada malam itu. Katanya,

يَا رَسُوْلَ اللهِ أرَأيْتَإِنْ عَلِمْتُ أيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أقُوْلُفِيْهَا

Ya Rasulallah, Bagaimana pendapat anda seandainya saya tahu malam apa layalatul qadr itu, Apa yang harus saya ucapkan saat itu ?

Jawab Rasulullah Saw, ucapkanlah,

اللهم إنكََّ عَفُوٌّ تُِحبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَِنّي

Ya Allah! Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pema’af dan suka mema’afkan, maka ma’afkanlah kesalahanku (HR. Ahmad, Attirmidzi, Ibnu Majah. Imam Attirmidzi menilai hadits ini shahih).

Malam yang mulia itu bukan beberapa saat atau beberapa jam, melainkan malam keseluruhan sejak matahari terbenam sampai terbit fajar. Namun alangkah sederhananya do’a yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw untuk diucapkan pada malam itu. Bolehkah kita berdo’a menurut keperluan kita?

Hakikatnya berdo’a itu bebas, baik waktunya maupun ucapannya, tergantung kesempatan dan kebutuhan masing-masing. Yang sangat dibutuhkan oleh kita adalah mohon pengampunan dosa (istighfar) dan mohon diberi rahmat (istirham). Banyak ayat Alquran yang menunjukan do’a orang-orang yang sholeh, mereka selalu memohon ampunan dan rahmat Allah. Serta banyak hadits Nabi Saw yang menganjurkan istighfar dan istirham. Sebab itu kedua permohonan itu sama sekali jangan dilewatkan, bahkan harus diucapkan lebih dulu.

Sabda Rasulullah Saw kepada Aisyah r.a tidak menunjukkan bahwa berdo’a pada malam qadar itu hanya demikian, melainkan berdo’alah sesuai dengan kebutuhan, dan jangan lupa memohon dimaafkan oleh Allah. Adapun beliau hanya menganjurkan demikian, sebab do’a-do’a yang lainnya sudah ma’lum dan biasa diucapkan.

Sebagaimana dalam Kitab Albukhari diriwayatkan, jawaban Abu Hurayroh kepada muridnya ketika ia ditanya tentang hadas, “Mal hadatsu ya Aba Hurayrah? (Apa hadas itu ya Abu Hurayrah?) Jawabnya “Fusaa-un aw dluraatun” “(Hadas itu adalah keluar angin/kentut kecil atau angin yang bersuara)” Tentunya yang disebut hadats itu bukan hanya keluar angin dari dubur saja, lebih dari itu pun adalah hadats, bahkan ada yang disebut hadats besar. Hadats-hadats yang tidak disebutkan oleh Abu Hurayrah itu sudah dima’lumi, dan diyakini membatalkan wudlu.

Demikian juga yang dinyatakan Rasulullah Saw kepada istrinya, Aisyah. Selain do’a yang biasa dan sesuai dengan kebutuhan, jangan lupa untuk mohon dimaafkan Allah. Dan Aisyah pun mengerti.

Mengapa harus maaf yang diminta? Di dalam Alquran, ada beberapa ayat yang menerangkan kapan Allah memaafkan, dan dari perbuatan macam apa. Maaf itu berkaitan dengan perbuatan salah yang tidak disengaja, atau tidak tahu harus berbuat apa, biasa disebut keliru, berbeda dengan dosa. Dosa itu sesuatu yang disengaja dan diakui oleh pelakunya bahwa perbuatan itu salah. Dari dosa kita harus bertobat, dari kekeliruan kita harus mohon maaf.

Firman Allah,

وَهُوَ الذَِّيْ يَقْبَلُ التَّوْبةََ عَنْ عِبَادِهٖ وَيَعْفُوْا عَنِ السَّيِّاٰتِ وَيَعْلَمُمَا تَفْعَلُوْنَ

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan dari kesalahan-kesalahan serta mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Assyura [42] : 25)

Allah memaafkan orang-orang yang beriman yang keliru memahami ayat Alquran tentang kewajiban shiyam. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Alhakim dari Mu’adz bin Jabal, bahwa para shahabat biasa makan, minum, dan mendatangi istri-istrinya sebelum mereka tidur. Jika sudah tidur, mereka tidak mau melakukan apa-apa sampai datang waktu sahur. Ada shahabat yang tidur setelah shalat isya, ia tidak makan dan minum sampai shubuh. Pagi harinya ia payah. Ada lagi yang mendatangi istrinya setelah tidur malam, ia merasa berdosa. Kemudian ia mengadukan masalahnya kepada Nabi Saw, maka turunlah ayat

اُحِلَّ لكَُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ هُنَّ لبَاسٌ لكَُّمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لهُنَّۗ عَلِمَ الّٰلُ اَنكَُّمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Ramadhan bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka itu adalah pakaian bagimu,dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu… (QS Albaqarah [2] : 187).

Kita sering dihadapkan kepada beberapa masalah yang membingungkan. Seperti menemukan barang yang tidak jelas halal-haramnya. Adakalanya kita menentukan suatu pekerjaan atau menetapkan hukum yang salah. Keputusan-keputusan itu diambil hanya berdasar kepada ilmu yang terbatas. Sekalipun kita berijtihad, namun tidak selamanya hasil ijtihad itu tepat. Selayaknya kita mohon hidayah Allah, istigfar, istirham, dan mohon dimaafkan atas segala kesalahan.

Yang disebut shiyam itu bukan hanya menahan lapar, dahaga dan hubungan suami isteri pada waktu siang, melainkan telinga, mata, lidah, kaki, tangan pun harus ikut shiyam. Kenyataannya kita tidak bisa memelihara semuanya dengan baik. Oleh sebab itu maka seharusnya kita sering berdo’a dengan do’a di atas, supaya tujuan utama shiyam kita tercapai, yaitu menjadi orang yang bertaqwa.

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB