KH Rahmat Najieb

 

Pada rangkaian ayat-ayat shiyam dalam QS Albaqarah [2] : 183-187 ada terselip ayat 186. Ayat tersebut selintas seolah tidak ada kaitan langsung dengan bab shiyam.

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِِنيّْ قَرِيْبٌ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا ليْ وَْليُؤْمِنُوْا بيْ لعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Karena itu hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah- Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Ayat ini diturunkan berkaitan dengan pertanyaan seorang Arab gunung kepada Rasulullah Saw, “Apakah Tuhan kita itu dekat? Saya akan merendahkan suara (munajat) kepada-Nya. Ataukah Dia jauh? Saya akan berseru (dengan suara keras) kepada-Nya. Rasulullah Saw diam sejenak, kemudian turunlah ayat ini. (Riwayat Ibnu Jarir Atthabari).

Dari ayat di atas dapat kita fahami bahwa:

  1. Berdo’a sangat dianjurkan saat-saat kita beribadah. Ibadah shiyam adalah ibadah yang lama waktunya, sebaiknya kita banyak berdo’a kepada Allah;

2. Berdo’a itu harus dengan suara yang pelan (munajat), karena Allah itu Maha dekat dan Maha mendengar. Pada QS 50 ayat 16 dijelaskan bahwa Allah itu lebih dekat dari urat leher hamba-Nya. Jadi sebelum seseorang mengutarakan maksudnya, Allah sudah mengetahuinya. Sebab itu haram hukumnya berdo’a dengan suara keras apalagi menggunakan pengeras suara

3. Setiap do’a akan diijabah Allah. Sabda Rasulullah Saw, “Tidak ada seorang muslim yang berdo’a dengan satu permintaan selama ia tidak berbuat dosa dan memutus shilaturrahim kecuali Allah akan mengabulkannya dengan tiga kemungkinan: a. disegerakan permintaannya; b. ditangguhkan di akhirat, c. dihindarkan dari bencana seukuran permintaannya.” (HR Ahmad);

4. Syarat dikabulkan do’a adalah memenuhi perintah Allah dan beriman kepada-Nya. Saat bulan Ramadlan kita sedang melaksanakan perintah Allah dan meningkatkan keimanan. Sepanjang hari dan malam tidak ada saat yang kosong dari ibadah. Barangkali itulah sebabnya ayat ini disimpan di antara ayat-ayat shiyam.

Pemahaman di atas dikuatkan pula oleh sabda Rasulullah Saw

ثَلاثََةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَُتهُمْ الصَّاِئمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَْالإِمَامُ اْلعَادِل وَاْلمَظْلُوْمُ. -رواه الترمذي و ابن ماجه

Ada tiga orang yang tidak akan ditolak do’anya; Shaaim sampai ia ifthar, imam yang adil, dan yang dianiaya. (HR Attirmidzi dan Ibn Majah).

Tetapi menurut riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Sunniy bahwa berdo’a itu dianjurkan saat ifthar, karena Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ للصَّاِئمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً مَا تُرَدُّ

Sesungguhnya bagi orang yang shiyam, di waktu ia berbuka tersedia do’a yang makbul .

Adapun do’a yang dianjurkan adalah mendahulukan istighfar (mita ampunan), istirham (mohon rahmat). Selanjutnya kita bisa berdo’a sesuai dengan kebutuhan dan dengan bahasa masing-masing. Adalah Abdullah bin Amr bin ‘Ash yang meriwayatkan hadits di atas, suka berdo’a saat ifthar:

اللهم إِنىِّ أسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ اَّلتىِ وَسِعَتْ كَُّل شَيْءٍ أنْ تَغْفِرَلىِ -رواه ابن ماجه

Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuniku. (Ibnu Majah)

Pada riwayat Abu Dawud, Annasāi, Alhakim, dan Albayhaqi, Rasulullah Saw berdoa,

ذَهَبَ الظَّمَأُ, وَاْبتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ, وَثَبَتَ اْلاَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالىَ.

Telah lenyap haus dahaga, dan telah basah urat-urat Insya Allah ditetapkan pahala.

Sedangkan do’a ALLAHUMMA LAKASHUMTU WA ‘ALAA RIZQIKA AFTHARTU dinyatakan mursal oleh Abu Dawud yang meriwayatkannya. Sekalipun mempunyai syahid tetapi masih diragukan keshahihannya. Sedangkan waktu sahur tidak ada do’a khusus atau bacaan tertentu, dan tidak ada pelafazhan niyat.

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB