KH Rahmat Najieb

 

Makna I’tikaf

I’tikaf arti asalnya menetap, tidak meninggalkan, mengasingkan diri, menahan dan mencegah. Arti i’tikaf berkembang menjadi menyembah dengan tetap dan tidak meninggalkan sembahannya, tekun Firman Allah,

اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا هٰذِهِ التَّمَاثِيْلُ اَّلتِيْ اَنتُْمْ لَهَا عَاكِفُوْنَ

Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya” (QS. Al-anbiya [21] : 52)

قَاُلوْا لنْ نبْرَحَ عَلَيْهِ عٰكِفِيْنَ حَتّٰى يَرْجِعَ اَليْنَا مُوْسٰى

Mereka menjawab, “Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.” (QS. Thaha [20] : 91)

Sedangkan yang dimaksud dengan i’tikaf yang disyariatkan, adalah “menetapnya seorang mu’min di masjid dengan niat beribadah hanya kepada Allah dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkannya”

Hukum I’tikaf

I’tikaf itu disyariatkan, Firman Allah

وَعَهِدْنَآ اِلىٰٓ اِْبرٰهٖمَ وَِاسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيِْتيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَاْلعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

Dan Kami telah perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku, untuk orang-orang yang thawaf, i’tikaf, ruku’ dan sujud.” (QS Albaqarah [2] : 125)

كَانَ النَِّبيُّ صلى الله عليه وسلم يعْتَكِفُ في اْلعَشْرِ اْلأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ

Adalah Rasulullah Saw beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadlan. (HR Albukhari)

I’tikaf itu hukumnya mandub (sunat). Tidak ada perintah yang menunjukkan wajib, serta tidak ada ancaman bagi orang yang tidak beri’tikaf, Firman Allah,

وََلا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فى اْلمَسٰجِدِ

Dan janganlah kamu bermubasyarah dengan isteriisterimu manakala kamu sedang i’tikaf di masjidmasjid. (QS.Albaqarah [2] : 187)

Sabda Rasulullah Saw

مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفِ الأَ عَشْرِ

Siapa yang beri’tikaf bersamaku, maka hendaklah i’tikaf pada sepuluh malam terakhir. (HR Albukhari)

Sedangkan i’tikaf bagi perempuan tidak ada keterangan kecuali isteri-isteri Rasulullah Saw, hal itu pun setelah ada izin dari beliau. Dalam pelaksanaannya pun harus lebih tertib menggunakan ruangan khusus seperti tenda, jangan sampai mengganggu orang-orang yang akan shalat berjamaah. Bila hal itu tidak bisa dilakukan, maka i’tikaf bagi perempuan hukumnya terlarang.

Tempat I’tikaf

Pada QS Albaqarah ayat 187 Allah Tabaroka wa Ta’ala mengisyaratkan bahwa i’tikaf itu dilakukan di dalam masjid. Ada pendapat yang membolehkan beri’tikaf di mushalla bahkan di dalam mushalla rumahnya. Namun tidak ada hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah Saw beri’tikaf selain di masjid.

Keterangan lain, bahwa Rasulullah Saw pernah mengizinkan sebagian isterinya untuk i’tikaf di masjid. Beliau tidak menunjukkan tempat lain sebagai pengganti masjid. Hal ini mengisyaratkan bahwa tempat i’tikaf itu adalah masjid.

Ada pula yang berpendapat bahwa masjidmasjid yang dimaksud adalah tiga masjid yang terkenal; masjid Alharam di Makkah, masjid Nabawi di Madinah, dan masjid Al-aqsha di Palestina. Tetapi keterangan yang diriwayatkan Imam Abu Dawud dari Aisyah menjelaskan bahwa,

لاَ اعْتِكَافَ إلَّا في مَسْجِدٍ جَامِعٍ

Tidak boleh i’tikaf kecuali di masjid jami’

Dalam sebuah riwayat yang munqathi’ dijelaskan bahwa masjid yang dimaksud adalah yang ada muadzinnya serta imamnya tidak sembarang orang.

Waktu I’tikaf

Rasulullah Saw biasa beri’tikaf pada sepuluh terakhir di bulan Ramadlan. Tetapi beliau pernah pula beri’tikaf pertengahan bulan Ramadlan dan mengqadla i’tikafnya pada bulan Syawal, karena di suatu bulan Ramadlan beliau meninggalkannya.

كَانَ رَسُوْلُ الله ص. يَعْتَكِفُ في كُلّ رَمَضَانَ فَِإذَا صَلَّي اْلغَدَاءَ دَخَلَ مَكَانَهُ الذَِّي اعْتَكَفَ فِيْهِ. قَالَ : فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَاِئشَةُ أنْ تَعْتَكِفَ فَأَذِنَ لَهَا فَضَرَبَتْفِيْهِ قُبَّةً. فَسَمِعَتْ بِهَا حَفْصَةُ فَضَرَبَتْ قُبَّةً . وَسَمِعَتْ بِهَا زَيْنَبُ فَضَرَبَتْ قُبَّةً أخْرَى. فَلَمَّاانْصَرَفَ رَسُوْلُ اللهِ ص. مِنَ اْلغَدَاةِ أبْصَرَ أرْبَعَ فَقَالَ: مَا هَذَا فَأَخْبَرَ خَبَرَهُنَّ . فَقَالَ :مَا حَمَلَهُنَّعَلَى هَذَا آلبِْرُّ انْزِعُوْهَا فَلا أرَاهَا ! فَنُزِعَتْ . فَلَمْ يَعْتَكِفْفيِ رَمَضَانَ. حَتَّى اعْتَكَفَ فيِ آخِرِ اْلعَشْرِ مِنْ شَوَّالٍ )رواهالبخاري

Adalah Rasulullah Saw beri’tikaf pada setiap bulan Ramadlan. Apabila selesai shalat shubuh beliau masuk ke tempat i’tikafnya. Kata (Rowi) Aisyah minta izin untuk beri’tikaf, maka beliau mengizinkannya, kemudian ia membikin tenda. Hafshah mendengar hal itu, ia pun mendirikan tenda, didengar pula oleh Zainab, lalu ia pun membikin tenda yang lain. Setelah Rasulullah Saw selesai shalat shubuh (hari berikutnya) beliau melihat ada empat tenda. Katanya, “Apa ini?” lalu  diberitahukan kepadanya tentang mereka (isteri-isteri beliau). Katanya lagi, “Buat apa mereka melakukan ini? Apakah mencari kebaikan? Bongkar tenda-tenda ini, aku tidak mau melihatnya lagi ! Kemudian dibongkar tenda-tenda tersebut. Rasulullah Saw pada Ramadlan itu tidak i’tikaf. Sehingga beliau i’tikaf di sepuluh terakhir pada bulan Syawal. (HR Albukhari)

Adapun batas minimal dan maksimal lamanya i’tikaf di kalangan para ulama berbeda pendapat, karena tidak adanya dalil yang menjelaskan hal itu. Ada yang berpendapat minimalnya satu hari, sehari semalam, bahkan ada pula yang menyatakan, seseorang termasuk i’tikaf walaupun hanya sejenak diam di masjid tetapi harus dibarengi dengan niat. Demikian pula perbedaan pendapat tentang batas maksimalnya. Tetapi pada umumnya Rasulullah Saw beri’tikaf selama sepuluh hari.

Sedangkan yang membatalkan i’tikaf adalah keluar dari tempatnya kecuali untuk memenuhi kebutuhan buang air , berwudlu, makan dan minum itupun bila tidak ada yang mengantarkannya. Dalam riwayat Abu Dawud, Aisyah, Ummul Mu’minin menerangkan,

اَلسُّنَّةُ عَلىَ الْمُعْتَكِفِ أنْ لاَ يَعُوْدَ مَرِيْضًا وَلاَ يَشْهَدَ جَنَازَةً وَلاَ يمَسَّ امْرَأةً وَلاَ يُبَاشِرَهَا وَلا يََخرُْجَ إلَّا لَِحاجَةٍ مَالاَ بدَّ مِنْهُوَلاَ اعْتِكَافَ إلَّا في مَسْجِدٍ جَامِعٍ -رواه ابو دود

Sunnah atas orang yang beri’tikaf adalah : tidak menengok orang yang sakit, menghadiri jenazah, menyentuh dan mencumbu istri dan tidak boleh keluar (dari mesjid) kecuali untuk keperluan yang sangat, dan 82 | Fiqih Shiyam Ramadlan tidak (ada) i’tikaf kecuali dengan shiyam dan tidak ada i’tikaf kecuali di mesjid jami’ (HR. Abu Dawud : Sunan Abi Dawud I : 575 )

Fadlilah I’tikaf

  1. Dengan i’tikaf kita akan leluasa dzikir kepada Allah. Masjid adalah tempat yang paling baik untuk menyebut nama Allah dan sholat maktubah (wajib). Firman Allah

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dari mendirikan sholat, dan membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang di hari itu hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka) bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang. (QS. Annur [24] : 37-38).

2. Ada tujuh orang yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari tidak ada perlindungan kecuali dari Allah; di antaranya

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ في اْلمَسَاجِدِ

seorang laki-laki yang hatinya selalu tergantung di masjid-masjid. (Muttafaq alayh).

Selalu ikut sholat berjamaah. Sholat berjamaah itu lebih baik daripada sholat munfarid 25 sampai 27 derajat; (HR. Albukhari dan Muslim)

4. Menunggu waktu shalat serta dido’akan malaikat.

إِنَّ أحَدَكُمْ فيِ صَلاةٍَ مَادَامَتِ الصَّلاةَُ تَْحبِسُهُ وَ اْلمَلائَِكَةُ تَقُوْلُ : اللهم اغْفِرْ لهَُ اللهم ارْحَمْهُ مَا لَمْ يَقُمْ مِنْ مُصَلَّاهُ أوْ يُْحدِثْ -رواه البخاري

Sesungguhnya seorang di antaramu tetap akan mendapat pahala shalat, selama menunggu shalat berikutnya. Dan para malaikat pun akan mendo’akan, Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah berilah ia rahmat selama belum beranjak dari tempat shalatnya atau sebelum berhadats.

5. Shalat lebih khusyu’, karena orang i’tikaf tidak akan disibukkan dengan urusan dunia.

6. Mudah mendapatkan shaf yang pertama. Shaf yang pertama bagi laki-laki itu lebih baik daripada shaf berikutnya. Sabda Rasulullah Saw, Sesungguhnya Allah memberi rahmat bagi shaf yang pertama dan malaikat akan selalu memohonkannya bagi mereka. (HR Ahmad dari shahabat Abi Umamah)

7. Mudah untuk shalat malam, karena orang yang i’tikaf itu tidak (banyak) tidur.

8. Dengan meninggalkan kesibukan mencari harta dan kepentingan keduaniaan, maka seseorang akan bertambah zuhud. Mu’takif itu akan tetap di masjid dan tidak disibukkan dengan bisnis..

9. Memelihara shiyam dari perbuatan yang akan membatalkannya. Shiyam itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan mata, telinga lidah dan hati pun harus ikut shiyam.

Melatih sabar; sabar dalam taat, dan shabar dalam menahan godaan.

11. Menghindari diri dari maksiat. Orang yang berada di masjid tidak mempunyai kesempatan untuk maksiat

12. Mengingat dosa, mengharapkan ampunan.

13. Melatih diri mengingat mati. Mu’takif harus menyendiri menghadap Allah, seperti halnya ketika ia mati.

14. Membaca Alquran. Mu’takif tidak punya kesibukan selain berdo’a dan membaca Alquran. Rasulullah Saw biasa membaca Alquran sampai tamat sebulan Ramadlan. Bahkan pada tahun terakhir, beliau sampai dua kali tamat.

15. Lebih leluasa mengisi laylatul qadar dengan dzikir dan do’a.

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB