www.pzu.or.id, Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang lima dan merupakan kewajiban terbesar setelah dua syahadat.

Rasûlullâh saw. bersabda, Islam dibangun di atas lima tiang, yakni Syahadat Lâ ilâha illa Allâh dan Muhammad Rasûlullâh; menegakkan shalat; menunaikan zakat; haji; dan puasa Ramadhan.” [H.R. Bukhâri, No. 8; Muslim, No. 16]

Oleh karena itu, shalat merupakan tiang agama.

Rasûlullâh saw. bersabda: “Pokok urusan (agama) itu adalah Islam (yakni: syahadatain) , tiangnya shalat, dan puncak ketinggiannya adalah jihad.” [HR. Tirmidzi, No. 2616; dll, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani]

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui Al-Ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (Q.S. Maryam: 59-60)

Ibnu Mas’ud menyebutkan bahwa al-Ghoyya dalam ayat tersebut bermakna sungai di Jahanam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam.

Dalam ayat ini, Allah Swt. menjadikan sungai di Jahanam sebagai tempat bagi orang yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu.

Karena pentingnya ibadah shalat, maka Allâh Swt. memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjaga shalat dengan sebaik-baiknya. Allâh Azza wa Jalla berfirman: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthâ (shalat Ashar). Dan berdirilah untuk Allâh (dalam shalatmu) dengan khusyu’”. [Al-Baqarah/2: 238]

Demikian juga shalat merupakan pembatas antara iman dengan kekafiran.

Rasûlullâh saw. bersabda: “Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan syirik dan kekafiran adalah meninggalkan shalat”. [HR. Muslim, No: 82, dari Jabir]

Rasûlullâh saw. juga bersabda: “Perjanjian yang ada antara kami dengan mereka adalah shalat. Maka, barang siapa meninggalkannya, dia telah kafir.” [H.R. Tirmidzi, No: 2621; dll;  Dishahihkan oleh syeikh Al-Albani]

Shalat merupakan amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat. Rasûlullâh saw. bersabda:

“Sesungguhnya pertama kali amal hamba yang akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka dia beruntung dan sukses, namun jika shalatnya rusak, maka dia gagal dan rugi. Jika ada sesuatu kekurangan dari shalat wajibnya, maka ar-Rabb (Allâh) Swt. berfirman, ‘Perhatikan (wahai para malaikat) apakah hamba-Ku ini memiliki shalat tathowwu’ (sunah) sehingga kekurangan yang ada pada shalat wajibnya bisa disempurnakan dengannya!’. Kemudian, seluruh amalannya akan dihisab seperti itu.” [HR. Ibnu Majah, No: 1425; Tirmidzi, No: 413; lafazh ini bagi imam Tirmidzi; dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani] (CR)

 

sumber foto: pikiran.rakyat.com