Login

Register

Login

Register

Demaz Fauzi Hadi (Businnes Trainer)

 

Virus corona (covid-19) pertamakali berjangkit pada akhir Desember 2019 di Kota Wuhan, China. Virus yang masih sekeluarga dengan SARS dan MERS ini telat menular dengan sangat cepat ke hampir seluruh negara di dunia. Kementrian Kesehatan RI menjelaskan bahwa covid-19 telah menjadi pandemi di 215 negara terjangkit dan 171 negara transmisi lokal. Indonesia sendiri berada di urutan ke-25 dari 215 negara yang sudah menjadi pandemi virus mematikan tresebut.

Negara-negara yang terdampak covid-19 sudah melaksanakan beberapa kebijakan untuk menekan angka penularan, seperti social distancing, physical distancing, bahkan lockdown. Pemerintah Indonesia turut serta menekan angka penularan covid-19 dengan melaksanakan physical distancing atau lebih dikenal dengan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di mana masyarakat dihimbau untuk berada di rumah (stay at home), bekerja dari rumah (work from home), sekolah dari rumah (school from home), dan hanya boleh keluar rumah jika ada keperluan yang mendesak dengan tetap konsisten menerapkan protokol kesehatan (prokes) 3M, yaitu: Memakai Masker, Menjaga Jarak Aman, dan Mencuci Tangan.

Pandemi covid-19 tak hanya menyebabkan masalah kesehatan masyarakat. Pandemi pun sekaligus merusak stabilitas ekonomi makro dan mikro. Berbagai sektor industri terdampak covid-19, seperti persediaan bahan baku, permintaan pangsa pasar, Pemutusan Tenaga Kerja (PHK) secara massal, dan masalah ekonomi lainnya. Dampak ekonomi terbesar dapat terlihat dari aspek industri di Indonesia. Rata-rata UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) terdampak covid-19 karena banyak menghasilkan produk pertanian, industri kreatif, makanan dan minuman yang mana sektor-sektor tersebut menjadi sektor yang paling banyak terdampak. Hal lainnya, UMKM sangat tergantung pada penjualan karena pendapatannya harian dan transaksi dengan konsumen akhir (end user).

Menurut penelitian Panjaitan dkk mengenai literasi metode penelitian dan bisnis teknologi kreatif di era new normal, 50 persen UMKM menutup usahanya karena covid-19. Berdasarkan laporan survei Asian Development Bank (ADB)yang sejalan dengan yang dilakukan oleh Kementerian UMKM, di mana penjualan UMKM paling terdampak. Sekitar 40-70% sangat berkurang dalam omset UMKM. Salah satu akibat yang ditimbulkan dari turunnya omset penjualan adalah pelaku UMKM tersebut kesulitan untuk membayar bunga dan cicilan.

Tantangan Sekaligus Kesempatan      

Masalah-masalah ekonomi di atas harus menjadi perhatian bersama, baik dari pemerintah atau swasta untuk menyelamatkan dunia usaha yang berskala nasional, terutama UMKM yang menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi tulang punggung di mikro ekonomi. Situasi pandemi covid-19 menjadi kesempatan sekaligus tantangan bagi UMKM untuk tetap survive. UMKM di Indonesia menjadi industri yang paling berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja dan pendapatan domestik bruto. Tahun 2018, tercatat jumlah UMKM di Indonesia sebanyak 64.194.057 unit, yaitu 99% dari semua seluruh skala pasar. Penyerapan pekerjaan berjumlah 116.978.631 atau dengan kata lain 97% dari total penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Adapun kontribusi UMKM terhadap domestik bruto sebesar 66,97%.

Negara-negara yang terdampak pandemi covid-19 berusaha memperbaiki perekonomian sekaligus memutuskan mata rantai penularan virus dengan menerapkan tatanan kehidupan baru. Tatanan kehidupan baru itu, yaitu tetap menjalankan roda perekonomian supaya produktif dan di sisi lain secara konsisten membiasakan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) supaya aman dari covid-19.

Daya beli konsumen yang memang sering naik turun semakin terjun bebas saat masa pandemi. Toko-toko sepi, rasa takut keluar rumah membuat para pelaku UMKM kesulitan mendapatkan pembeli. Tentu saja harus ada strategi khusus agar di tengah pandemi ini mereka tetap bisa memikat konsumen dan menghasilkan transaksi. Dan mau tak mau, mengikuti trend digital marketing menjadi salah satu solusi paling realistis untuk dilakukan.

Digital marketing yang biasanya terdiri dari pemasaran interaktif dan terpadu memudahkan interaksi antara produsen, perantara pasar, dan calon konsumen. Di satu sisi, digital marketing memudahkan pebisnis memantau dan menyediakan segala kebutuhan dan keinginan calon konsumen. Di sisi lain, calon konsumen juga bisa mencari dan mendapatkan informasi produk yang diinginkan hanya dengan cara menjelajah dunia maya sehingga mempermudah proses pencariannya tanpa perlu keluar rumah.

Digital Marketing

Pemanfaatan konsep pemasaran berbasis digital marketing memberikan harapan baru bagi UMKM untuk bertahan di tengah pandemi dan berkembang menjadi pusat kekuatan ekonomi. Perkembangan teknologi digital memungkinkan para pelaku UMKM dapat memasarkan produknya secara online dan melakukan transaksi melalui sistem perbankan secara online pula. Ini tentu memudahkan transaksi di tengah kebijakan masa pandemi yang membatasi interaksi langsung antar pedagang dan pembeli.

Media sosial (Youtube, Facebook, dan Instagram) merupakan sarana digital marketing yang paling mudah untuk dimanfaatkan saat ini. Pemanfatan media sosial untuk pemasaran online lebih mudah dipelajari dari pada pembuatan situs yang memang memerlukan keahlian khusus. Hal ini dapat menjadi stimulan perkembangan kewirausahaan dan keberlangsungan UMKM. Selain biaya yang murah dan tidak perlunya keahlian khusus dalam melakukan inisiasi awal, media sosial dianggap mampu secara langsung meraih calon konsumen. Oleh karena itu, tidak heran salah satu strategi pelaku UMKM saat ini untuk menghadang efek domino pandemi justru lebih menitikberatkan pemanfaatan media sosial dibanding dengan pengembangan sebuah situs.

Sayangnya, peluang ini belum diikuti oleh mayoritas UMKM. Meski perusahaan besar, kecil, maupun individu kini sudah mulai menggunakan digital marketing dan media sosial sebagai salah satu alat berpromosi atau mendekatkan diri kepada konsumen, namun di lapangan jumlahnya masih sangat terbatas. Pemanfaatan pemasaran melalui digital marketing dan media sosial masih belum maksimal jika dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah pengguna internet yang drastis.

Di era new normal ini, digital marketing me­megang peranan yang sangat penting. Dengan adanya koneksi internet, pelaku UMKM bisa tetap merasa “hidup” dan menjalin hubungan dengan teman, kolega, atau konsumen walaupun tidak bertemu secara tatap muka. Cara online dinilai ampuh untuk diterapkan pada bisnis dan juga menjadi tips kuliner yang efektif. Adanya protokol kesehatan yang dilakukan pemerintah membuat banyak orang mengandalkan pesan antar makanan secara online untuk sehari-hari, entah itu melalui aplikasi atau media sosial.

Konten is The King

Era pandemi banyak menimbulkan masalah baru di berbagai sektor dan memengaruhi tingkat pendapatan ekonomi semua pelaku usaha. UMKM merupakan salah satu dari banyaknya bisnis yang mengalami efek penurunan pendapatan. Strategi pemasaran melalui digital menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam mempertahankan UMKM. Pemasaran di era digital bisa menjadi suatu strategi efektif dalam bertahan serta menaikan omset para pelaku usaha UMKM.

Perolehan peningkatan pendapatan ini dilihat dari banyaknya pemasaran melalui digital marketing yang baik untuk menarik perhatian para pelanggan. Bagi pelaku UMKM, hal ini perlu dilakukan sebagai bentuk dari memperoleh pendapatan yang sesuai dengan omset standar yang biasa mereka peroleh. Strategi digital marketing ini juga penting bagi pelaku usaha UMKM yang memang mengalami kesulitan dalam pemasaran barang maupun jasa sehingga menimbulkan pengurangan omset.

Adapun yang perlu dikuasi para pelaku usaha terkait strategi digital marketing untuk membantu pemasaran produk, yaitu pengunaan sosial media, konten marketing, mobile marketing, integrated digital marketing, continuous marketing, dan personalized marketing. Oleh karena itu, strategi digital marketing menjadi salah satu solusi yang ampuh serta tidak bertentangan dengan kebijakan di era pandemi. Strategi penggunaan media digital sebagai pemasaran para pelaku usaha UMKM juga diharapkan menjadi sebuah strategi yang dapat meningkatkan penghasilan serta omset dan dapat bertahan di era pandemi.

Wallahu A’lam bis Shawab

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB