KH Rahmat Najieb

 

Alquran Surat Albaqarah [2] ayat 183 menjelaskan bahwa tujuan diwajibkan shiyam itu agar kaum Mu’minin menjadi orang-orang yang bertaqwa. Sebenarnya bukan hanya shiyam yang menghasilkan taqwa itu, tetapi seluruh ibadah juga bertujuan untuk mencapai derajat yang paling mulia itu. Firman Allah,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai manusia, beribadahlah kepada Tuhan kalian, yang telah menciptakanmu dan menciptakan orangorang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS Albaqarah [2] : 21).

Akan tetapi Allah Tabaroka wa Ta’ala menyebutkan secara khusus bahwa diwajibkan ibadah shiyam agar orang-orang yang beriman menjadi taqwa. Ibadah shiyam itu memiliki kelebihan-kelebihan tertentu untuk menyiapkan seorang Mu’min untuk menjadi Muttaqin. Baik itu shiyam yang hukumnya wajib maupun yang mandub.

Taqwa berasal dari kata waqaa- wiqaayah artinya menahan, menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan dan menyakitkan. Seperti firman Allah, “Qū anfusakum wahlḭkum nārā.” (jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka) (QS Attahrim [66] : 6). Orang yang bertaqwa adalah orang yang berusaha menjaga dirinya dari api neraka. Pada ayat yang lain, “Wattaqun nāral ladzḭ u’iddat lilkāfirḭn” (jagalah dirimu dari api neraka yang disediakan untuk orang-orang kafir). (Ali Imran [3] : 131).

Dari itu taqwa diartikan menjaga diri dari segala perbuatan bodoh dan dosa yang mengakibatkan disiksa di neraka. Malahan diartikan pula meninggalkan perkara-perkara yang meragukan atau syubuhat. Sabda Rasulullah Saw, “famanittaqas syubuhāt faqadistabra-a lidḭnihi wa ‘irdlihi” (siapa yang menahan diri dari perkara yang syubuhat, berarti ia telah menjaga kesucian agamanya dan kehormatannya.)” (HR Albukhari).

Taqwa adalah sifat atau derajat yang paling tinggi. Orang yang memiliki sifat ini disebut Muttaqin. Sifat Muttaqin merupakan perpaduan antara Iman dan Islam. Seseorang tidak disebut muslim bila tidak beriman, dan tidak sempurna Imannya bila tidak melaksanakan rukun Islam. Bila keduanya dilaksanakan dengan baik sesuai dengan petunjuk Allah dan contoh Rasulullah Saw, orang itu disebut muttaqin.

Dijelaskan pada permulaan Alquran Surat Albaqoroh bahwa Muttaqin itu adalah orang yang beriman disertai ibadah shalat dan suka berinfaq. Pada Surat Ali Imron [3] ayat 134 – 135 disebutkan ciri-ciri lain dari orang-orang yang bertaqwa,

الذَِّيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السََّّرۤاءِ وَالضََّّرۤاءِ وَالكَْاظِمِيْنَ اْلغَيْظَ وَاْلعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَۗالّٰلُ يُِحبُّ اْلمُحْسِنِيْنَ

وَالذَِّيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا الّٰلَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ وَۗمَنْ يغْفِرُ الذُّنُوْبَ اَِّلا الّٰلُ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يعْلَمُوْنَ

Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya, suka memaafkan kesalahan orang lain. Allah sangat menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiyaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Di antara hikmah atau kaitan shiyam dengan ketaqwaan adalah:

  1. Shiyam itu dapat membiasakan seorang mumin untuk selalu takut kepada Allah dalam sunyi maupun terang. Karena takutnya itu, ia mampu menahan diri dari syahwat dan keinginan. Padahal ketika tidak sedang shiyam ia dapat merasakan lezatnya makanan, dinginnya minuman, dan ni’matnya bersuami istri. Tetapi semua itu tidak ia lakukan, karena yakin Allah selalu memperhatikannya. Keyakinan seperti itu disebut Muroqobah. Kebiasaan muroqobah itu dapat menjadikan seorang shoim (yang shiyam) mampu meninggalkan perbuatan dosa besar maupun kecil. Sehingga ketika ia merasakan suatu dorongan untuk melakukan ma’shiyat, ia cepat-cepat dzikir kepada Allah dan bertobat. Firman Allah,

اِنَّ الذَِّيْنَ اَّتقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰۤىِٕفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا  فَِاذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu bila ditimpa was-was dari syetan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka menyadari kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-a’raf [7] : 201)

2. Shiyam itu dapat mengendalikan nafsu syahwat sesuai syariat. Sabda Rasulullah saw, “Wahai para pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk menikah, maka menikahlah, sebab menikah itu akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan, maka siapa yang tidak mampu untuk menikah, hendaklah ia shiyam, sebab shiyam itu akan menjadi tameng (dapat menurunkan temperamen)” (HR. Muslim).

Tentunya yang dimaksud beliau adalah shiyam atau shiyam sunat, sebab shiyam Romadlan itu hukumnya wajib tidak dikaitkan dengan pernikahan, walaupun hikmahnya akan lebih terasa bagi kaum muda. Pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadlan disyariatkan beri’tikaf. Salah satu yang membatalkan i’tikaf adalah melakukan hubungan suami istri. Hanya shāim yang mampu melaksanakan i’tikaf. Di akhir ayat tentang shiyam dan i’tikaf Allah berfirman,

تِلكَْ حُدُوْدُ الّٰلِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ الّٰلُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يتَّقُوْنَ

Itulah larangan-larangan Allah, maka dari itu janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertaqwa. (QS Albaqarah [2] : 187).

3. Ketika menahan lapar dan dahaga, seorang shāim akan merasakan penderitaan orang faqir dan miskin. Sehingga perasaan itu dapat mendorong untuk mencurahkan zakat, infak, dan shodaqoh. Pada ayat di atas diterangkan, bahwa salah satu sifat taqwa itu selalu berinfaq dalam keadaan suka maupun duka (ketika usahanya maju atau terkenan bencana). Bahkan Rasulullah Saw menyatakan bahwa tidak sempurna iman seseorang bila tidur dengan kekenyangan, sementara tetangganya kelaparan.

4. Shiyam itu dapat menyehatkan jiwa dan raga. Imam Musthofa Almaroghi dalam kitab Tafsirnya menerangkan berdasarkan penelitian para ilmuwan bahwa, shiyam satu bulan penuh pada bulan Ramadlan dapat menghilangkan sisa-sisa makanan yang tidak diperlukan selama satu tahun. Dalam sebuah keterangan disebutkan “shūmū tashihhū” (shiyamlah nanti kau akan sehat). Orang yang shiyam dituntut untuk makan teratur. Artinya ia makan ketika lapar dengan tidak berlebihan, sehingga lambungnya itu sudah benar-benar kosong. Bagi orang yang bertaqwa, waktu makan itu tidak didasarkan karena adanya  makanan, tetapi dengan waktu yang ditentukan dan dengan jarak yang sesuai dengan keperluan. Biasanya kita makan bila sudah lapar atau jika sudah disediakan hidangan. Tidak dibenarkan bagi seorang Mu’min makan dan minum secara berlebihan. Makan bagi seorang mu’min bukan untuk mengisi perut, tetapi sekedar menambah tenaga. Jadi tujuannya bukan kenyang dan menghabiskan hidangan.

Perut itu harus diisi tiga bagian yang seimbang; udara, makanan, dan air. Bila isinya tidak seimbang, maka akan menimbulkan masalah, yaitu sakit perut. Jika sudah demikian maka akan mengurangi kekhusyuan ibadah dan mengurangi semangat bekerja. Orang yang bertaqwa itu akan khusyu dalam beribadah dan semangat dalam bekerja, jauh dari sifat loba dan tamak.

5. Di antara sifat muttaqin adalah sabar. Ketika melaksanakan shiyam kita dilatih bersabar. Bukan hanya karena menunggu waktu maghrib, tetapi bersabar menahan amarah. Rasulullah saw berpesan, “Shiyam adalah benteng, ketika seorang di antaramu shiyam janganlah ia berkata keji, janganlah mencaci maki, seandainya ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencaci makinya, hendaklah ia menjawab, Innḭ shāimun, Innḭ shāimun (saya sedang shiyam, saya sedang shiyam) …” (HR Albukhori).

Ayat di atas menerangkan bahwa sifat orang yang bertaqwa adalah alkāzhimḭnal ghayzha (yang mampu menahan amarah).

6. Untuk kesempurnaan ibadah shiyam di samping berbuat baik kita juga dianjurkan untuk saling memaafkan, sebab pahala seseorang bisa tertahan bila ia masih punya urusan dengan sesama manusia. Sehabis berhari raya biasanya kita saling mendo’akan dan saling memaafkan. Hal itu sesuai dengan petunjuk Allah bahwa sifat orang yang bertaqwa itu suka memaafkan orang lain “Al-’Âfḭna‘aninnāsi

7. Rasulullah Saw memberikan motivasi kepada kita, agar orang-orang yang shiyam benar-benar diperhatikan rizqinya. Sabdanya, Siapa yang memberi ifthar kepada yang shiyam, ditetapkan baginya seperti pahalanya (shaaim). (HR Attirmidzi dan Ibnu Majah) (Mu’jam). Pada ayat 134 Surat Ali Imron di atas Allah menutupnya dengan kalimat “Wallāhu yuhibbul Muhsinḭna” (Dan Allah sangat menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan).

8. Bulan Ramadlan disebut juga “Syahrul Musaawat” artinya bulan persamaan. Maksudnya pada saat itu ketentuan melaksanakan ibadah shiyam itu sama antara umat yang beriman. Apakah ia miskin atau kaya, rakyat atau pejabat, sama-sama lapar, sama-sama bergembira. Sama seperti sedang melaksanakan ibadah haji, bahkan dalam ibadah haji pakaiannya pun harus sama. Yang membedakan mereka menurut pandangan Allah adalah ketaqwaan yang diraih

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ الّٰلِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ الّٰلَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antaramu. (QS Alhujurat [49] : 13)

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB