dr. Harry Rayadi, MARS (Dokter Spesialis Avasin)

 

Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan bagi orang yang telah menyatakan dirinya beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sebagai bukti keimanannya tersebut, ibadah puasa harus dijalankan dengan keikhlasan yang sebenar-benarnya. Oleh sebab itu, puasa merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah Ta’ala kepada dirinya. Maka, sudah sepantasnya orang yang beriman akan semangat dan berbahagia pada saat memasuki bulan Ramadan karena pada bulan tersebut terdapat ibadah puasa.

Namun, bagi orang-orang tertentu yang meng­alami gangguan maag atau lambung, puasa menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapinya. Oleh sebab itu, untuk membantu mengatasinya, penulis mencoba menguraikan secara singkat bagaimana tips berpuasa bagi mereka yang mengalami gangguan maag -khususnya- dan bagi mereka yang ingin terhindar dari gangguan maag pada saat berpuasa. Karena bagaimana pun, kita perlu ilmu agar puasa kita lebih baik sebagaiman Firman Allah Ta’ala pada Quran Surah al-Baqarah ayat ke 184:

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ ۚ وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Maka, barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (orang sakit berat, orang yang sangat tua, orang yang hamil atau menyusui) wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi, barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan (memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari), maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Sakit Maag

Sakit maag dalam istilah kedokteran disebut dispepsia, istilah “sakit maag” hanya ada di Indonesia. Maag itu sendiri sebenarnya adalah Bahasa Belanda yang artnya lambung. Mungkin istilah ini dikenal sejak dahulu kala ketika bangsa kita dijajah oleh Belanda, di mana rumah sakit dan ilmu medis merekalah yang menguasai. Maka tak heran, hingga saat ini banyak istilah yang berkaitan dengan dunia kedokteran masih menggunakan Bahasa Belanda. Sakit maag atau dispepsia adalah nyeri dan tidak nyaman pada lambung yang disebabkan oleh sejumlah kondisi. Jadi, sakit maag bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala dari penyakit. Umumnya, sakit maag disebabkan oleh luka yang terjadi di lapisan dalam (tukak lambung), infeksi bakteri Helicobacter Pylori, efek samping mengkonsumsi obat anti inflamasi non-steroid (OANS), dan juga stres.

Semua orang dari segala usia dan jenis kelamin dapat mengalami sakit maag. Gangguan pencernaan ini sangat umum. Namun, ada beberapa faktor yang dapat membuat risiko seseorang mengalami sakit maag meningkat, seperti: adanya masalah emosional, seperti kecemasan atau depresi; infeksi bakteri Helicobacter Pylori; efek samping penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid; terlalu banyak makan; kelebihan berat badan; terlalu banyak mengonsumsi minuman berkafein dan soda; makan terlalu cepat; mengonsumsi  makanan pedas, berlemak, dan berminyak; mengonsumsi cokelat berlebihan; atau mengonsumsi minuman beralkohol. Di samping itu, sakit maag juga dapat muncul sebagai komplikasi dari sebuah penyakit, misalnya penyakit batu empedu, radang pankreas, penyumbatan usus, dan kanker lambung.

Gejala sakit maag yang biasanya akan dialami pengidap, antara lain: cepat merasa kenyang dan rasa kenyang yang berkepanjangan setelah makan; mual; kembung pada perut bagian atas; sering bersendawa; nyeri pada ulu hati dan nyeri di tengah dada yang muncul ketika atau setelah makan; rasa panas pada perut bagian atas. Sakit maag yang terjadi biasanya ditandai dengan gejala rasa panas di dalam dada akibat naiknya asam lambung ke bagian kerongkongan. Stres pun membawa dampak menjadi lebih negatif bagi pengidap sakit maag.

Terdapat 25% pengidap sakit maag adalah mereka yang tidak terdapat kelainan organik yang mendasari, seperti: tukak lambung; Gastro-esophageal Reflux Diseases (GERD); kanker lambung, dan akibat penggunaan jangka panjang obat anti nyeri golongan OAINS (Obat Anti-Inflamasi Non Steroid). Sedangkan 75%-nya lagi adalah mereka yang tidak memiliki kelainan organik yang mendasarinya. Inilah yang disebut dispepsia fungsional yang terdapat beberapa faktor yang berperan, anatara lain: gangguan saraf atau otot lambung; sensitivitas terhadap nyeri; infeksi oleh Helicobacter Pylori; faktor psikologis dan sosial.

Tips bagi yang Berpuasa

Studi yang dimuat dalam Govaresh yang me­nyatakan, puasa Ramadan tidak memberikan dampak signifikan pada pengidap sakit maag. Pengidap hanya dianjurkan untuk menghindari makan secara berlebihan ketika sahur dan saat berbuka puasa karena hal ini memicu kenaikan asam lambung. Kenaikan asam lambung saat berpuasa terjadi pada minggu pertama saja sebagai penyesuaian tubuh kita terhadap perubahan jam makan, kemudian menurun kembali. Hal tersebut karena ketika berpuasa, hormon gastrin membantu menurunkan kadar asam lambung.

Panduan Makanan:

Konsumsi karbohidrat atau makanan yang lambat dicerna saat sahur agar tidak mudah lapar dan lemas di siang hari.

Kurma merupakan sumber yang bagus untuk karbohidrat, serat, kalium, dan magnesium.

Kacang almond banyak mengandung protein serat sehingga bisa dianjurkan dikonsumsi saat berpuasa.

Pisang merupakan sumber bagi nutrient, seperti kalium dan magnesium.

Makanan yang dipanggang lebih disarankan dibanding makanan yang digoreng dan berlemak.

Makan dalam porsi sedikit tapi sering.

Makanlah mendekati imsak saat sahur  dan segera berbuka saat magrib, seperti anjuran sunah Rasulullah saw.

Jangan lupa minum obat yang direspkan dokter saat sahur dan berbuka.

Panduan Minuman:

Minum banyak air putih untuk mengganti kehilangan air saat berpuasa, yaitu sekitar 8 gelas perharinya.

Minum segelas susu saat sahur. Hal ini dapat mengurangi gejala maag dan ulkus peptic.

Minum air putih, jus buah yang tidak asam, rebusan kunyit, dan minuman yang mengandung banyak kalium agar tubuh dapat menyesuaikan dengan kondisi saat berpuasa.

Hal yang Menjadi Pantangan:

Hindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung, seperti cuka, merica, makan pedas, dan bumbu masak yang merangsang.

Jangan langsung tidur setelah makan sahur atau makan malam karena hal ini dapat meningkatkan risiko asam lambung nail atau GERD.

Jangan langsung makan dalam porsi besar saat  berbuka atau sahur dan jangan menunda berbuka.

Hindari minuman yang mengandung kafein, seperti kopi, teh, soda, dan minuman energi.

Merokok meningkatkan risiko maag dan ulkus peptikum. Maka, bulan Ramadan merupak saat yang tepat untuk berhenti merokok.

Alkohol bisa menyebabkan pelemahan klep antara lambung dan kerongkongan sehingga meningkatkan risiko asam lambung naik.

Hindari obat-obatan yang dapat mengiritasi lambung, seperti  obat anti nyeri non-steroid.

Hindari stres karena dapat menyebabkan peningkatan asam lambung.

Perbanyak zikir.

Wallahu ‘Alam bis Shawwab

 

 

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB