Login

Register

Login

Register

Ahmad Sofian

 

Peradaban, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan bentuk nomina yang merujuk pada kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin.   Sedangkan dalam tesaurusnya, kata adab memiliki perluasan konsep sinonim (1) adat, akhlak, budi bahasa, budi pekerti, etika, kebajikan, kehalusan, kepatuhan, kesantunan, kesopanan, kesusilaan, kultur, moral, sopan santun, tata krama, tata susila; (2) cara, hukum, kebiasaan, lembaga, peraturan, resam, sifat; (3) etik, etos, ideal, nilai, pandangan hidup.  (Kamus Tesasaurus Indonesia, 2008: 4)

Secara etimologis, kata peradaban berkaitan dengan istilah Latin “civitas” atau “kota”. Itulah sebabnya kadang-kadang mengacu pada masyarakat tingkat negara kota, mengesampingkan orang nomaden yang tidak memiliki pemukiman permanen dan mereka yang tinggal di pemukiman, yang tidak dianggap perkotaan atau tidak memiliki organisasi tingkat negara bagian. Kadang-kadang dapat digunakan sebagai label untuk masyarakat manusia yang telah mencapai tingkat kompleksitas tertentu. Dalam arti luas, peradaban sering kali memiliki arti yang hampir sama dengan budaya atau bahkan tradisi daerah, termasuk satu atau lebih negara bagian yang terpisah. (Eka Permaha Habibillah dkk, 2021: 105 )

Peradaban selalu berkaitan erat dengan pergumulan manusia, atau yang kita kenal dengan masyarakat yang membentuk sebuah relasi sosial (ijtima’i) sebagai konsekuen dari kata “hadhar”. Peradaban berarati pemaknaan tentang kehadiran, hadirnya setiap elemen kemanusiaan. Menurut Malik bin Nabi, dalam realitanya, hadharah itu dapat didefinisikan sebagai sejumlah operasi idealis dan materialis yang tersedia bagi masyarakat selama memberikan setiap anggotanya seluruh jaminan sosial untuk memenuhi kebutuhannya. (Malik bin Nabi, 2002: 42)

Islam memandang manusia sebagai mahluk social yang memerlukan bantuan orang lain, yang tidak mungkin untuk hidup tanpa bantuan orang lain. Selain kehidupan sosial, Islam juga mengatur kehidupan masyarakat dalam bidang ekonomi. Dalam Islam, tidak diberlakukannya hidup di atas penderitaan orang lain. Begitu juga tidak berlakunya sistem mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya dan modal yang sekecil-kecilnya. Islam memandang ekonomi sebagai prilaku dalam menjalankan suatu sistem untuk memenuhi suatu kebutuhan. Perilaku inilah yang sangat ditekankan dalam Islam, yaitu prilaku yang berdasarkan nilai, norma, dan etika Islam. Etika dan moral dalam Islam mencakup segala aspek, di antaranya etika dalam berbisnis, etika dalam berpikir ekonomis, etika dalam mencari keuntungan, dan lain sebagainya. Dan hal yang paling terpenting dalam menjalankan suatu sistem ekonomi di sini tidak terlepas dari nash al-Qur’an dan teladan Rasulullah saw.

Sistem adalah cara dan bagaimana sesuatu hal akan dijalankan dengan berdasarkan mutu kualitas. Dan, Islam merupakan wadah dalam mensinergikan segala mutu kualitas dalam berekonomi dengan memasukan unsur-unsur nilai keislaman (tauhid, keadilan, kebebasan, dan tanggung jawab) yang akan melahirkan sebuah peradaban baru bagi ekonomi dunia menjadi peradaban ekonomi Islam.

Problem Ekonomi Islam

Paradigma perekonomian yang banyak bemunculan saat ini merupakan bentuk dari ketidakpuasan masyarakat terhadap sistem ekonomi yang selalu berganti. Seperti adanya penerapan sistem kapitalisme, yang mana berupa upaya untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang seefisien mungkin. Dalam perekonomian, hal ini merupakan pandangan individualistis (sistem kapitalisme). Seperti yang kita ketahui, sistem ini sangat berpengaruh pada perekonomian masyarakat kecil, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Maksud dan visi terbesar dalam sosial ekonomi Islam adalah menciptakan keseimbangan antara ekonomi dan masyarakat secara adil. Hal ini dapat dilakukan melalui partisipasi pada setiap individu masyarakat dalam mengerjakan kebaikan dan hal-hal berguna yang telah diderivasikan Allah kepada manusia di muka bumi. Namun, pelaksanaanya tidak hanya terbatas pada golongan kaya saja, melainkan melibatkan berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Timbulnya permasalahan dan gejala ekonomi masyarakat yang hanya mementingkan sebelah pihak merupakan bukti atas tidak idealnya sistem yang ada. Karena sistem kapitalis telah menjadi mainstream economic yang banyak berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat. Maka, perlu adanya suatu pembaharuan dalam bentuk sistem perekonomian. Oleh karena itu, sistem ekonomi yang berbasis Islam menjadi sistem alternatif untuk memperbaharui sistem yang ada, yakni sistem yang berdasarkan nilai nilai Islam dan akan menjadi pengganti dari sistem kapitalisme.

Ekonomi Islam ialah ekonomi yang dibangun atas dasar tauhid, keseimbangan (adl qisth) kehendak bebas, dan pertanggung jawaban. Pada keempat komponen dasar inilah dibangun sistem ekonomi Islam sehingga perjalanan ekonomi Islam bukan atas dasar keserakahan individu atau ekstrimitas kepemilikan bersama karena hal seperti itu tak sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki hak-hak individu dan kewajiban sosialnya dalam masyarakat yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Keempat komponen dasar ini meminjam istilah, Syed Nawab Haider Naqwi, sebagai “Aksioma Etika Ekonomi Islam”.

Aksioma etika ekonomi Islam atau asas ini tak menjadi titik tolak secara holistik di dunia Islam sekarang. Lebih-lebih ketika konsep dan sistem ekonomi Islam tak menjadi bagian dari sistem kehidupan muslim secara konprehensif dan holistik. Jadi, sebenarnya yang tak ingin diplementasikan oleh masyarakat Islam bukan hanya hukum publik yang berkaitan dengan pidana, akan tetapi juga dalam hukum khusus, seperti kegiatan muamalat ini

Dari sini, kita ingat sabda Nabi Muhammad saw. yang diterima dari Abu Umamah dan diriwayatkan oleh Ibnu Hibban sebagai berikut: “Sungguh akan lepas ikatan-ikatan (sistem) Islam itu sedikit-sedikit. Setiap sub sistem itu lepas, maka akan beriringan dengan sub sistem berikutnya. Yang pertama lepas adalah sistem hukum dan yang terakhir adalah salat”.

Bagi manusia, ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka (Malaikat) menjaganya atas perintah Allah. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS ar-Ra’du: 11)

Prinsip Dasar Ekonomi Islam

Prinsip-prinsip ekonomi Islam amat jelas sekali diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya, antara lain:

1) Prinsip Kebersihan Harta

Yang dimaksud prinsip ini ialah bahwa ekonomi Islam harus halal, melalui proses halal (sifatnya halal), jauh dari sifat ribawi, transparan (tidak ghass), rela merelakan (‘an taradin) dan tidak ihtikar (penimbunan), tidak ada gharar (penipuan), dan spekulasi (maisir).

Prinsip Kesederhanaan (Tidak Israf dan Tabzir)

Prinsip ini berkaitan dengan kebebasan manusia dan tanggung jawab sosialnya. Harta yang dimiliki seseorang tak serta merta dapat digunakan semuanya dengan tidak memerhatikan lingkungan dan manfaatnya secara baik. Manusia dilarang israf (melebihi batas) dan tabzir (menyia-nyiakan) yang sebenarnya tak perlu dilakukan sama sekali. Secara sosial, hal ini akan membangkitkan bughdl dan hasd (iri dengki) di kalangan masyarakat atau yang sering disebut kecemburuan sosial.

Prinsip Kemurahan Hati dan Moralitas

Manusia beriman memiliki tanggung jawab sosial yang amat besar. Tanggung jawab harus didasarkan kasih sayang terhadap yang lain sehingga apapun yang diperbantukan kepada yang lain tidak semata-mata bernilai ekonomi, seperti pinjaman dan gadaian, akan tetapi ta’awun (kemitraan dan saling membantu) antara sesama. Karena itu, bukan hanya infak wajib dan zakat yang harus dikeluarkan dari seorang muslim, tetapi juga sedekah, jariyah, dan lain-lain harus pula diperhatikan. Dalam hal bantuan yang bernilai ekonomi pun harus disertai dengan kasih sayang dan landasan moral yang tinggi karena tak setiap orang yang berutang mampu membayar sekaligus atau seketika sesuai dengan pinjaman semula sehingga memerlukan penangguhan beberapa waktu.

Dengan demikian, maka ekonomi Islam sebenarnya amat manusiawi dan alami, walaupun tak menolak sama sekali segala produk teknologi yang meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Dengan ini pula maka produktif, efektif, dan efisien merupakan kekhasan dari ekonomi Islam. Sekarang ketiga hal tersebut sedang digalakan di dunia. Untuk meningkatkan produksi, diupayakan adanya bio-teknologi agar kebutuhan hidup manusia, terutama makanan dan minuman diperoleh dari daerah sempit dengan tingkat produktivitas tinggi. Dari sini juga akan efisien dalam menggunakan lahan pertanian. Segala tindakan yang tidak efisien, secara moral, akan mendapat kecaman dunia internasional, khususnya para pemerhati lingkungan.

Pemberdayaan Ekonomi Produktif

Pemberdayaan ekonomi umat merupakan upaya untuk mengubah suatu keadaan atau kondisi umat, baik secara individu maupun berkelompok dalam memecahkan berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian, dan kesejahteraannya. Pemberdayaan ekonomi merupakan suatu upaya untuk membangun daya masyarakat dalam perekonomian, khususnya dengan mendorong, memotivasi, dan menggali potensi yang dimiliki sehingga kondisi akan berubah dari yang tidak berdaya menjadi berdaya dengan perwujudan tindakan yang nyata untuk meningkatkan harkat dan martabat dari sisi ekonomi dan melepaskan diri dari kemiskinan dan keterbelakangan.

Pemberdayaan ekonomi dapat terwujud apabila inti pokok sasaran dapat fokus pada pengentasan kemiskinan, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta demokrasi dalam berpolitik. Pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat dilakukan dengan cara penguatan penguasaan distribusi dan pemasaran, penguatan untuk mendapatkan gaji/upah yang memadai, dan penguatan dalam memperoleh informasi, pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat agar mampu berdiri sendiri.

Pemberdayaan diarahkan guna meningkatkan ekonomi masyarakat secara produktif sehingga mampu menghasilkan nilai tambah yang tinggi dan pendapatan yang lebih besar. Upaya peningkatan kemampuan untuk menghasilkan nilai tambah paling tidak harus ada perbaikan akses terhadap empat hal, yaitu akses terhadap sumber daya, akses terhadap teknologi, akses terhadap pasar, dan akses terhadap permintaan.

Wallahu A’lam bis Shawab

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB