KH Rahmat Najieb

 

Puasa

Kita sering menterjemahkan Shaum atau Shiyam dengan puasa, padahal puasa berasal dari kata upawasa istilah agama Hindu. Seperti tertulis dalam kitabnya, sebagaimana yang dikutip oleh Ust Shiddiq Amien dari buku Candravid 4 : 9 “Upawasa itu pada hari kamu dilahirkan, ketika kamu menginginkan sesuatu, ketika kamu menyatakan kecintaan antara Athman dan Brahman, tetapi cucilah rambutmu sebelum melakukannya itu.” Pada Candravid 4 : 6 disebutkan “Rayakanlah penutupan upawasa itu dengan tabuh-tabuhan.” Pengaruh cuci rambut sebelum puasa ini tertular kepada sebagian umat Islam yang melakukan kuramas dan menabuh rebana sehari sebelum Ramadlan atau menjelang Idul Fithri.

Puasa ada pada tiap agama, sebab ibadah dengan menahan diri dari suatu pekerjaan itu adalah latihan yang sangat efektif untuk pertahanan jiwa raga. Sehingga kaum penyembah berhala, agama Mesir kuno, Yunani, Romawi, Yahudi dan Kristen mengenal bentuk ibadah ini. tetapi ibadah ini bagi mereka bukan merupakan kewajiban melainkan sangat terpuji bagi yang melaksanakannya. Atau dijadikan syarat untuk mencapai tujuan atau meraih keinginan. Misalnya melakukan puasa pada kelahiran (wedal) seseorang yang diharapkan cintanya. Puasa juga dilakukan untuk meredam kemarahan dewa atau makhluk penguasa yang marah, misalnya ketika gunung meletus atau air laut mengamuk. Dilakukan juga dengan memakai sesajian untuk makhluk yang tak jelas wujudnya itu.

Kaum Kristen juga melakukan puasa selama 40 hari, dihitung sejak kematian Yesus sampai kenaikannya. Puasa Kristen berbeda-beda menurut madzhab dan pendetanya masing-masing; ada yang tidak memakan daging dan tidak minum susu selama 40 hari itu, ada juga yang hanya mengurangi makan saja. (Sumber, Muallaf)

Shaum atau Shiyam

صَامَ – يَصُوْمُ – صَوْمًا وَ صِيَامًا؛ صَاِئمٌ – صَاِئمُوْنَ وَصَيَّامٌ

SHÂMA – YASHÛMU adalah bentuk kata kerja sedangkan SHAUM atau SHIYÂM adalah bentuk pekerjaan. Orang yang melakukan shiyam disebut SHÂIM bentuk jamaknya SHÂIMÛNA atau SHÂIMḻNA kadang menggunakan kata SHAYYÂM.

Asshiyāmu atau Shaum menurut bahasa adalah

الإمْسَاكُ عَنِ الشَّيْءِ وَالتَّرْكُ لهَُ

al-imsaaku ‘anis syay-i wa tarku lahu = menahan sesuatu dan meninggalkannya.

Mengekang diri dari suatu perbuatan atau diam adalah shiyam. Kata Imam ar-Raghib, shiyam menurut bahasa adalah “menahan diri dari perbuatan; makan, bicara, berjalan.” Kuda yang terkekang dengan tali sehingga tidak bisa berjalan bebas disebut sedang shaum” demikian juga binatang yang terkurung atau Fiqih Shiyam Ramadlan | 11 yang diikat. Kata Abu ‘Ubaydah, “orang yang mogok bicara, mogok makan, dan tidak mau berjalan-jalan disebut sedang shaum.”

Dalam Alquran Allah ‘Azza wa Jalla membedakan istilah antara SHAUM dengan SHIYAM. Kata Shaum lebih cenderung secara bahasa sedangkan kata Shiyam digunakan secara syar’iy. Perhatikan kedua ayat berikut.

فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا فَاَِّما تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًا فَقُوِْليْٓاِِنّيْ نَذَرْتُ للرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اكَلِّمَ اْليَوْمَ انْسِيًّا

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya saya telah bernazar shaum untuk Tuhan yang Maha Pemurah, Karena itu saya tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (QS Maryam [19] : 26).

فَمَنْ لمْ يِجدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ فى الَْحجِّ وَسَبْعَةٍ اذَا رَجَعْتُمْ

Siapa yang tidak mendapatkan hadyu kemudian maka wajib shiyam tiga hari dalam masa haji dan tujuh 12 | Fiqih Shiyam Ramadlan hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. (QS Albaqarah [2] : 196).

Tetapi Rasulullah Saw dan para shahabatnya demikian juga para Imam Alhadits dan ahli Fiqih menggunakan kedua istilah ini secara seimbang dalam arti yang sama.

Adapun shaum atau shiyam menurut Syara’ sebagaimana dikemukakan oleh Imam Ahmad Musthofa Almaraghi, yaitu

اَلإمْسَاكُ عَنِ اْلأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَغَشْيَانِ النِّسَاءِ مِنَ اْلفَجْرِإِلَى اْلمَغْرِبِ إحْتِسَاًبا للهِ، وَِإعْدَادًا للنَّفْسِ وَتَهْيْئَةً لهَا لتَقْوَىاللهِ بمُرَاقَبَتِهِ في السِّرِّ وَاْلعَلَنِ.

Menahan diri tidak makan, tidak minum, tidak hubungan suami isteri dari mulai fajar sampai maghrib dengan mengharap pahala dari Allah (ikhlash), dan mempersiapkan jiwa untuk taqwa kepada-Nya dengan muraqabah dalam keadaan sembunyi maupun terangterangan.

Yang dimaksud dengan muraqabah adalah pengetahuan seorang hamba akan perhatian dan tatapan Allah kepadanya, sehingga apa pun yang ia lakukan, di manapun, dan kapanpun ia menyadarinya bahwa Allah akan memperhitungkan segala amalnya.

Pengertian shiyam ini sesuai dengan Firman Allah Swt dan Sabda Rasulullah Saw

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS Albaqarah [2] : 183)

مَنْ صَامَ رَمضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ – رواه البخاري

Siapa yang shiyam Ramadlan karena iman dan mengharap ganjaran (ikhlash) ia akan diampuni dosanya yang telah lalu. (HR Albukhari)

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB