Login

Register

Login

Register

Risa Fitriyani, M.Hum (Bidang pengembangan Komunitas Pemudi Pecinta Al-Qur’an/KOPCA)

 

Amalan atau ibadah di bulan Ramadan, khususnya shaum, merupakan salah satu pilar Islam (rukun Islam). Pilar tersebut tidaklah berdiri sendiri dalam kesempurnaanya, karena terdapat serangkaian penopang ibadah lain yang sangat menentukan kesuksesannya, di antaranya qiyam Ramadan, qiyam lailatul-qadr, dan tadarus al-Qur’an. Maka, sebuah kemestian bagi setiap muslim untuk memerhatikan semua ibadah tersebut, sebab saum Ramadan satu paket dengan ibadah-ibadah penopang tersebut.

Salah satu ibadah yang tidak diragukan lagi keistimewaannya adalah berinteraksi dengan al-Qur’an. Ada tiga tahapan interaksi dengan al-Qur’an yang berkaitan dengan tingkat keimanan kita terhadapnya, yaitu: qiro’ah (membaca), tilawah (membaca disertai memahami maknanya), tahfidz (menghafal). Masing-masing tahapan memiliki keutamaan bagi pengamalnya.

Membaca dan tilawah al-Qur’an adalah kegiatan yang rutin, sudah biasa dilakukan oleh setiap muslim, apalagi selama bulan Ramadan. Tadarus al-Qur’an menjadi program unggulan setiap muslim selama bulan Ramadan, walau berbeda-beda dalam praktiknya. Tadarus itu sendiri adalah amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., yang jika kita lihat dari konteks hadisnya, beliau melakukannya bersama malaikat Jibril a.s.

عَنِ ابْنِ عبَاَّسٍ قاَلَ كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ  أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَايَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْريْلُ وَكَانَ يَلْقَا هُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ فَلَرَسُوْلُ اللَّهِ َ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيْحِ المُرْسَلَةِ

Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. adalah manusia yang paling lembut, terutama pada bulan Ramadan ketika malaikat Jibril a.s. menemuinya. Dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadan, di mana Jibril mengajarkannya al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah saw. orang yang paling lembut dari pada angin yang berhembus”. (HR Bukhari)

Jika kita perhatikan, Jibril a.s. mengajarkan al-Qur’an tentu tidak menggunakan mushaf yang memang belum ada pada zaman itu. Pengajaran dilakukan melalui lisan, dengan melafalkan setiap ayat, dan diikuti oleh Rasulullah. Begitu pun Rasulullah menyetorkan bacaan ayat al-Qur’an untuk dikoreksi oleh Jibril a.s. Inilah yang dimaksud proses turunnya al-Qur’an melalui hafalan.

Berbeda dengan hari ini, menghafal al-Qur’an sederhananya adalah membaca al-Qur’an yang ada pada mushaf berulang-ulang. Secara teori, tentu tidak akan sulit karena kita cukup melakukan usaha tambahan dengan mengulang bacaan yang biasa kita baca, walaupun mengulangnya tentu harus teratur. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, tahfidz (menghafal al-Qur’an) ada di level ketiga dalam interaksi al-Qur’an karena tahfidz mencakup qiro’ah (membaca dengan benar) dan tilawah (memahami dan kemudian mengamalkan). Maka, mengahafal al-Qur’an tentu memiliki keutamaan yang lebih tinggi lagi.

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Ditawarkan kepada penghafal al-Qur’an, “Baca dan naiklah ke tingkat berikutnya. Baca dengan tartil sebagaimana dulu kamu mentartilkan al-Qur’an ketika di dunia. Karena kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu hafal.” (HR Abu Daud: 1466; at-Tirmidzi:3162; dan dishahihkan al-Albani)

Pada praktiknya, mengulang bacaan yang membutuhkan usaha tambahan itulah yang sering kali menjadi godaan besar. Menambah usaha membutuhkan tenaga dan dorongan kuat, apalagi untuk bisa konsisten. Maka, tak salah ketika menghafal, baik dalam arti sederhana mengulang bacaan atau pun menghafal dalam arti komprehensif, yaitu disertai memahami makna dan hikmahnya, menjadi tolak ukur kadar keimanan seseorang terhadap al-Qur’an.

Mewujudkan keimanan dalam amalan meng­hafal al-Qur’an, dibutuhkan niat yang tidak main-main dalam mengawalinya. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan kesabaran dalam menjalani setiap prosesnya serta dibutuhkan keikhlasan untuk me­nerima setiap hasilnya. Satu hal yang mesti disadari adalah bahwa menghafal al-Qur’an tidak berbicara kuantitas atau jumlah ayat yang berhasil dihafalkan. Walau tujuan utama adalah menghafal seluruh ayat al-Qur’an (30juz), namun kualitas hafalan, baik dalam bentuk kekuatan hafalan (itqan), pemahaman dan bahkan pengamalannya adalah esensi utama dari menghafal al-Qur’an.

Maka, sifat tidak terburu-buru terhadap target, tidak stres ketika berjumpa dengan ayat yang sulit hafal atau ayat yang mudah lupa, sabar ketika ada yang lupa dan ikhlas ketika harus mengulang menghafal adalah beberapa akhlak yang juga harus dimiliki oleh seorang penghafal al-Qur’an.

Cara menghafalkan al-Qur’an tentu berbeda-beda bagi setiap orang karena tingkat kemudahan serta kemampuan menghafal setiap orang tidak­lah sama. Maka, walaupun di luar sana banyak metode yang ditawarkan dalam menghafal al-Qur’an, pada akhirnya, metode yang cocok bagi setiap orang hanya akan diketahui dan ditentukan oleh orang yang bersangkutan.

Kendati demikian, metode-metode yang di­tawarkan dalam menghafal al-Qur’an adalah sebagai daftar rujukan yang bisa kita uji cobakan. Karena, sering kali seseorang tidak mengetahui bagaimana metode yang mudah dan bisa ia lakukan. Berikut tips menghafal al-Qur’an berdasar pengalaman penulis selama menghafal al-Qur’an:

  1. Tentukan Waktu dan Durasi Khusus

Perlu kesiapan dan kekhusyuan dalam menghafal al-Qur’an. Keadaan siap secara kondisi lingkungan, pikiran, dan perasaan setiap orang berbeda-beda dan itu perlu dilakukan dengan konsisten sekali pun waktunya berubah-ubah setiap harinya. Sesibuk apapun seseorang, tentu akan ada waktu nyaman dan perlu dipaksakan untuk kemudian diikhlaskan, lalu kita gunakan untuk mulai membaca dan menghafal al-Qur’an.

  1. Membuat Target

Walau esensi hafalan itu bukan pada kuantitas, namun target tetap diperlukan untuk mengukur konsistensi dan menjadi motivasi tujuan meng­hafal kita. Target juga disesuaikan dengan ke­mampuan diri. Fleksibel dalam target juga membantu kita untuk tidak merasa terbebani. Tidak masalah ketika target berubah di tengah jalan. Contoh: target hafalan adalah satu hari satu ayat, satu hari satu baris, satu hari lima baris, atau mungkin satu hari satu halaman.

  1. Baca Perlahan dengan Meresapi Tahsinnya

Ini adalah proses yang membutuhkan kesiapan dan kesabaran. Sering kali, kita ingin cepat hafal. Hafalan harus dihasilkan dari qiro’ah, yaitu membaca tartil sesuai dengan kaidah tajwid. Ayat yang terlanjur dihafal dengan tajwid yang salah akan sulit dibenahi.

  1. Baca Terjemahnya

Proses berikutnya untuk mendapat hafalan yang maksimal adalah melalui proses tilawah.Salah satu tilawah yang sederhana adalah dengan membaca terjemah, minimal kita bisa memahami maksud ayat tersebut. Akan lebih bagus membaca arti per kata, kemudian membaca terjemah keseluruhan.

  1. Baca Berulang

Proses ini terdiri dari dua fase, yaitu:

Baca berulang dengan tidak melihat ter­jemah disertai membayangkan artinya. Tahap ini masih boleh melihat mushaf. Baca berulang sebanyak yang kita bisa. Minimal 5-10 kali. Jika masih ada kata yang belum tahu artinya, ulangi langkah kelima tadi.

Baca ulang tanpa melihat mushaf. Ulangi hafalan sampai merasa benar-benar hafal.

  1. Setorkan kepada Seseorang, Kemudian Praktik­­­kan dalam Salat

Proses meminta untuk disimak adalah proses yang penting dalam menghafal. Jika memiliki guru (murobi), tentu lebih terarah. Namun, jika menghafal mandiri, maka tetap harus disetorkan kepada siapa saja yang bersedia menyimak. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. kepada Malaikat Jibril. Tujuan dari setor hafalan adalah untuk mengoreksi kekeliruan yang biasa dilakukan tanpa disadari. Jika kesulitan mencari orang yang bersedia menyimak sekali pun, maka bisa dilakukan dengan merekam hafalan, kemudian mengoreksi bacaan sendiri dengan melihat mushaf (auto-correct).

7.Ulang Hafalan (Murojaah) dan Beri Jeda untuk Tidak Melanjutkan Hafalan

Kegiatan menghafal yang paling sulit adalah mempertahankan hafalan. Maka, ulangilah hafalan (murojaah) sebelum tidur setiap hari. Dilanjutkan dengan murojaah setiap sebelum menambah hafalan. Walau murojaah bisa dilakukan setiap hari, namun perlu ada jeda menambah hafalan dan hanya fokus pada murojaah saja. Apalagi, hafalan akan semakin bertambah dan akan mudah hilang jika tidak dijaga dengan cara mengulang.

Jeda bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

1 hari dalam 1 minggu (misal, hari Jum’at adalah waktunya murojaah hafalan hari-hari sebelumnya).

Metode 3, 5, 10, yaitu murojaah dilakukan setiap selesai menghafal 3 ayat, 5 ayat, dan 10 ayat, atau 3 hari, 5 hari, dan 10 hari. Begitu pula ketika sampai pada 3 halaman, 5 halaman, dan seterusnya. (misal, hari senin hafalan satu ayat, selasa ayat kedua, rabu ayat ketiga, maka kamis tidak menambah hafalan dulu tetapi murojaah, memantapkan hafalan 3 ayat sebelumnya).

Karena proses yang tidak mudah ini, tak jarang banyak orang yang kemudian ber­anggapan lebih baik tidak menghafal saja, apalagi jika tahu bahwa hafalan yang disia-siakan akan menjadi dosa bagi penghafalnya. Namun, satu hal yang mesti diingat bahwa al-Qur’an turun kepada Nabi Muhammad saw. adalah dengan hafalan, pun para sahabat dari Rasulullah.

Maka, perintah menjaga al-Qur’an adalah tentu dengan menghafalkannya. Dan itulah amalan yang tiada merugi, bahkan memiliki keutamaan tersendiri bagi para pengamalnya. Jika cita-cita setiap orang harus setinggi langit sebagaimana cita-cita ukhrowi harus Surga Firdaus, maka amalan pun tentu harus memilih amalan yang tinggi keutamaannya, seperti halnya menghafal al-Qur’an.

Semoga beberapa tips tersebut bisa menjadi inspirasi untuk target bulan Ramadan tahun ini, dan mendapatkan hasil maksimal menuju sukses ibadah Ramadan. Aamiin…

Wallahu A’lam bis Shawab

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB