Login

Register

Login

Register

Hafidz Fuad Halimi

 

Ibadah bukan hanya milik orang tua. Pemahaman tersebut tentunya menepis banyaknya orang yang punya niat untuk giat beribadah di usia senjanya kelak. Betapa tidak, urusan kawula muda pun banyak disinggung dalam Islam sebagai kelompok usia yang menentukan tegak kokohnya agama Islam.

Dalam luas dan panjangnya ruang sejarah, selalu ada figur pemuda yang berperan penting dalam peristiwa bersejarah. Coba ingat kembali bagaimana peran Ismail dalam peristiwa pe­nyembelihan Nabi Ibrahim a.s. sehingga tetap tegaknya syariat ibadah kurban yang sampai saat ini masih diamalkan umat Islam di hari raya Iedul Adha. Jangan lupa juga terhadap sosok Ali bin Abi Thalib yang menjadi delegasi kawula muda di awal dakwah Rasulullah saw. Bahkan dalam konteks Indonesia, betapa kuatnya peran kawula muda dalam proses proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Betapa familiarnya ungkapan Sukarno (Proklamator Republik Indonesia) yang minta diberikan sepuluh orang pemuda untuk mengguncang dunia. Berbagai rentetan peristiwa sejarah menunjukkan bahwa usia muda bukanlah usia berleha-leha, termasuk dalam urusan ibadah.

Usia muda merupakan usia di mana manusia memiliki energi yang eksplosif. Daya pikir yang lugas menjadikan pemuda memiliki dorongan kuat untuk melakukan segala sesuatu secara capat dan efektif disertai daya juang pantang menyerah. Maka untuk menopang karakter manusia berusia muda, diperlukan bimbingan agama yang kuat dan referensi keilmuan yang mumpuni. Jika kombinasi itu sudah dimiliki oleh manusia di usia muda, maka tunggulah kejayaan suatu bangsa.

Islam pun menaruh perhatian yang sangat serius terhadap kawula muda. Bermacam kisah kawula muda banyak disinggung dalam al-Qur’an dan diceritakan Nabi Muhammad saw. dalam haditsnya.

 نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ

Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS al-Kahfi [18]: 13)

Bimbingan dan motivasi pun banyak yang ditekankan kepada kawula muda tersebut. Bahkan, salah satu golongan yang mendapat naungan di hari akhir adalah golongan kawula muda, yaitu kawula muda yang berada di jalur ketaatan kepada Allah Swt.

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ … وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ

Ada tujuh golongan manusia yang akan di­naungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah…” (HR Bukhari Muslim)

Dalam hal ibadah, sudah selazimnya kawula muda pun berada di garda terdepan, termasuk di bulan Ramadan. Segala potensi amal saleh yang tersedia harus mampu diraih oleh manusia di garda tersepan, kawula muda. Jika kawula muda berleha-leha dan kalah enerjik dengan golongan tua, maka secara otomatis naluri kawula mudanya harus dipertanyakan. Jangan sampai, energi yang dimiliki kawula muda terkuras oleh hal-hal yang kontra produktif. Maka dengan datangnya bulan Ramadan, seharusnya kawula muda tertantang untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas dirinya.

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

Apabila masuk bulan Ramadan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan pun dibelenggu.” (HR Bukhari)

Dibukanya pintu surga tentu bukan untuk mereka yang berleha-leha. Hanya mereka yang gesit dalam menangkap peluang itulah mereka yang dijanjikan pintu surga. Semakin gesit dalam meraih keutamaan ibadah di bulan Ramadan, semakin tertutup rapat peluang terperosok ke dalam neraka.

Jika gesit itu adalah karakter kawula muda, maka seharusnya kawula muda itulah yang mampu menyapu bersih semua reward di bulan Ramadan. Terlebih, reward yang disediakan Allah selama bulan Ramadan berlipat ganda, bahkan bisa lebih lagi. Maka, malu dan hina kiranya kawula muda jika energi ibadah yang mereka miliki kalah oleh energi sisa golongan tua.

Memang adakalanya kondisi yang sedang dialami kawula muda berbeda dari golongan tua. Namun harus jadi perhatian, keterbatasan yang sebagian besar masih melekat di diri kawula muda sejatinya adalah sebuah keistimewaan. Jika kawula muda mampu bersedekah dan berinfak di masa belum mapannya, maka ibadah mereka menjadi sangat istimewa dibanding mereka yang sudah diselimuti kemapanan. Jika kawula muda mampu bersabar di tengah karakternya yang eksplosif, maka tentu kesabarannya adalah kesabaran yang istimewa. Dan salat sunahnya kawula muda di tengah padatnya aktivitas harian menjadi salat yang lebih istimewa dibanding mereka yang memiliki banyak waktu luang.

Akses yang sangat luas terhadap dunia digital pun menjadi peluang keunggulan bagi kawula muda. Betapa tidak, golongan kawula muda itulah yang secara persentase paling tinggi masuk dan mengakses ruang-ruang digital. Maka, ruang digital yang terbuka lebar pun harus dimanfaatkan oleh kawula muda untuk meningkatkan kualitas diri dan juga meningkatkan kualitas ibadahnya. Banyak referensi yang bisa dimanfaatkan hanya dengan berbekal kuota atau wifi -kadang gratis-. Begitu juga dengan peluang berzakat, berinfak, bersedekah, bahkan berwakaf. Berbagai kanal digital memberi ruang bagi pemegang akses digital, terlebih kawula muda. Hal tersebut menjadi keunggulan tersendiri bagi golongan kawula muda. Jika akses zakat, infak, sedekah, dan wakaf digital didominasi generasi senior, maka sepantasnya generasi kawula muda merasa malu akan eksestensinya.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. ber­sabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah.” (HR Ahmad, Thabrani dalam al-Mu`jamul Kabir dan lainnya)

Kata shabwah untuk para pemuda yang di­jelaskan dalam kitab Faidhul Qadir adalah pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya. Sebaliknya, kawula muda yang tidak memiliki shabwah senantiasa membiasakan diri melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.

Maka dari itu, kawula muda harus mampu menempatkan dirinya sebagai golongan istimewa. Ingatkah, bahwa istimewa atau hinanya kawula muda tergantung pada kawula muda itu sendiri. Kemuliaan dan keistimewaan kawula muda akan terbentuk jika kombinasi hidup antara bimbingan agama, keluasan ilmu, dan keluwesan akhlak harmonis terolah dalam diri.

Ayo, manfaatkan Ramadan kali ini menjadi Ramadannya kawula muda yang produktif, kreatif, dan inspirastif. Jadilah kawula muda sebagaimana karakternya dalam mengejar kemapanan dunia dan  kemapanan akhirat. Tak lupa pula, bentuk  perisai diri agar kawula muda kebal terhadap rayuan kemaksiatan yang merayu-rayu.

Wallahu A’lam bis Shawab

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB