Login

Register

Login

Register

KH Rahmat Najieb

 

Dari ta’rif shaum sudah jelas bahwa yang membatalkan shiyam adalah makan; atau memasukkan makanan dengan sengaja melalui mulut, minum dan hubungan suami isteri di siang hari. Selain itu tidak membatalkan shiyam sekalipun berkaitan dengan mulut atau perut. Berikut ini hal-hal yang tidak membatalkan shiyam:

Membersihkan hidung

ketika berwudlu. Sabda Rasulullah Saw kepada seorang shahabat yang minta nasihat tentang wudlu.

أسْبِِغ اْلوُضُوْءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ اْلأَصَاِبعِ وََباِلغْْ فِي اْلإِسْتِنْشَاقِ إِلَّاأنْ تَكُوْنَ صَاِئمًا -رواه أبو داود والترمذي و النسائي

Sempurnakan wudlu, selat-selati di antara jari-jari, dan dalam-dalamlah saat menghirup air ke hidung kecuali engkau dalam keadaan shiyam. (HR Abu Dawud, Attirmidzi dan Annasāi).

Bersihkan hidung ketika berwudlu tetapi jangan menghirup dalam-dalam.

Menggosok gigi

Seorang shahabat menerangkan,

رَأيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَاكُ وَهُوَصَاِئمٌ -رواه أحمد والبخارى

Aku melihat Rasulullah saw sedang menggosok gigi padahal ketika itu beliau sedang shiyam. (HR Ahmad dan Albukhari)

Mencium isteri dan berkumur-kumur.

Shahabat Umar bin Khattab suatu hari pernah mencium isterinya karena saking gembiranya padahal ia sedang shiyam. Kemudian ia mendatangi Nabi Saw seraya berkata, “Hari ini saya melakukan kesalahan besar, saya mencium isteri padahal saya sedang shiyam”. Sabda Rasulullah Saw,

أرَأيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأنْتَ الصَائِمُ؟ قُلْتُ : لاَ بَأْسَ بِذَاِلكَ. فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فِيْمَ؟- رواه احمد وابو داود

Apa pendapatmu jika engkau berkumur-berkumur dengan air padahal engkau shiyam? Aku menjawab, “Hal itu tidak apa-apa” Nabi Saw bersabda : Lalu mengapa?” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Mencumbu isteri

Aisyah bercerita:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُوْنيِ وَهُوَ صَاِئمٌ وَكَانَ اَمْلَكَكُمْ لِارِْبهِ -رواه الترمذي

Nabi saw mencumbuku padahal beliau sedang shiyam dan beliau adalah orang yang paling dapat menguasai dirinya. (HR Attirmidzi).

Mencium dan mencumbu isteri sekalipun tidak membatalkan shiyam, tetapi harus hati-hati jangan sampai melewati batas. Para ulama fiqih berpendapat bahwa hal itu akan mengurangi pahala shiyam.

Muntah

mimpi bersenggama, dan berbekam. Rasulullah Saw bersabda:

لاَ يُفْطِرُ مَنْ قَاءَ وَلاَ مَنِ احْتَلَمَ وَلاَ مَنِ احْتَجَمَ -رواه أبوداود

Tidak batal orang yang muntah yang mimpi bersenggama dan berbekam (HR Abu Dawud.)

Menyiram air ke kepala

Shahabat lain menerangkan

فَلَقَدْ رَأيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يصُبُّ اْلمَاءَ عَلَى رَأسِهِ مِنَ الْحرَِّ وَهُوَ صَاِئمٌ -رواه احمد

Sesungguhnya aku melihat Rasulullah Saw menuangkan air di kepalanya karena panas ketika beliau shiyam. (HR Ahmad dan Albukhar).

Shubuh dalam keadaan junub

كاَنَ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ ثُمَّ يصُوْمُ -متفق عليه

Nabi saw bangun subuh dalam keadaan junub bukan karena mimpi lantas beliau shiyam (HR Albukhari dan Muslim).

Rasulullah Saw kesiangan sampai masuk waktu shubuh padahal beliau belum mandi janabat, beliau meneruskan shiyamnya.

Lupa.

Sabda Rasulullah Saw,

مَنْ نسَِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإَِّنمَا أطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ. -رواه الجماعة

Siapa yang lupa padahal ia sedang shiyam lalu ia makan atau minum, hendaklah ia melanjutkan shaumnya. Hanya saja ia telah diberi makan dan minum oleh Allah. (diriwayatkan oleh Aljamaah).

Keliru

menentukan waktu mulai shiyam dan saat ifthar. Misalnya karena tidak mempunyai jam dan tid k mendengarkan adzan shubuh atau waktu maghrib cuaca mendung sehingga makan atau minum bukan pada waktunya. Kata Asma binti Abi Bakar,

أفْطَرْنَا يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ فِي غَيْمٍ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمْسُ. -رواه البخاري

Suatu hari kami masih makan dalam cuaca mendung pada zaman Rasulullah Saw, kemudian terbitlah matahari. (HR Albukhari).

Pada hadits itu tidak ada keterangan bahwa beliau mengumumkan harus mengqadla atau kifarat. Secara umum hadits ini pun menjadi penjelas dari QS Al-ahzab (33) : 5

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيْمَآ اَخْطَأْتُمْ بِهٖ وَلٰكِنْ مَّا تَعَمَّدَتْقُلُوْبُكُمْ وَۗكَانَ الّٰلُ غَفُوْرًا رحِيْمًا

Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Para ulama fiqih berpendapat bahwa orang yang terpaksa atau dipaksa untuk berbuka, ia bisa meneruskan shiyamnya dan tidak wajib qadla.

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB